Cahaya Cinta di Mata Andika (I Miss You Prequel)

Andika&Hyun Jung-I Miss You

 

 

 

 

Tahukah kau, Andika?

Tentang belahan jiwa…

Pasangan yang akan menjadi jodoh kita

Seumur hidup

Pasangan yang kelak

Akan menjadi cahaya cinta di matamu

Sungguh aku ingin menjadi cahaya itu

Mengharapkan cintamu…

Masa SMA adalah masa-masa yang indah, begitulah kata orang, termasuk Andika Yudhistira, seorang remaja laki-laki berkacamata, yang kini duduk di bangku kelas tiga SMA Yudhistira, sebuah sekolah swasta yang berada di bawah naungan perusahaan ayahnya sendiri, Yudhistira Group. Sebagai seorang anak CEO, dia mendapatkan prestis dan keistimewaan lebih, namun Andika tidak menikmatinya dengan tinggi hati, melainkan dengan rasa syukur kepada Allah, bahwa kekayaan keluarganya hanyalah titipan semata dari Yang Maha Kuasa. Andika, seorang remaja biasa, namun ketampanan wajahnya serta sikapnya yang sedikit pendiam dan cool membuatnya digandrungi oleh para gadis di sekolahnya. Andika dikenal sebagai cowok yang santun dan rendah hati, perhatian dan peduli kepada teman-temannya serta sopan kepada guru-gurunya. Selain itu, dia juga taat agama dan menjabat sebagai Ketua Rohis, sedangkan bermain basket adalah hobinya. Pernah diminta masuk ke klub basket, tetapi Andika menolaknya karena lebih memilih aktif di Rohis sepenuhnya, belajar menjadi orang baik sesuai dengan tuntunan agama.

Memasuki tahun ketiganya di SMA ini, predikat ketua Rohis masih dia pegang sampai akhir semester ganjil nanti. Dia menjabat posisi ini sejak kelas dua dulu, dan semasa kepemimpinannya, Rohis SMA-nya yang dulu sempat dicap ekskusif sekarang telah berubah. Anak-anak Rohis sudah tidak canggung lagi untuk berbaur dengan anak-anak sebayanya yang pergaulannya mungkin dapat dikatakan tidak terlalu dekat dengan agama. Andika mengajak teman-temannya untuk berdakwah tanpa memandang siapapun apalagi menjustifikasi seseorang hanya karena berbeda dengan kelompoknya. Andika ingin memberikan kesan yang baik bagi teman-teman sekolahnya, bahwa Rohis tidaklah seperti organisasi tertutup yang mereka. Rohis adalah organisasi terbuka bagi siapapun yang ingin duduk bersama, belajar tentang agama Islam, tentang kebaikan, tentang kejujuran, tentang keadilan, tentang kebenaran, dan akhlak sesuai dengan tuntunan agama. Kepemimpinannya membuat anak-anak di sekolahnya serta para guru menyukainya. Dia menjadi cowok yang cukup populer di sana. Karena kebaikannya kepada semua orang, sehingga suatu hari di kelas, ada satu persatu surat-surat misterius dari entah siapa, terus saja berdatangan ke laci mejanya. Surat-surat yang berisikan pesan-pesan penuh kekaguman dan cinta dari penggemar rahasianya. Andika menduga kalau surat-surat ini berasal dari salah satu gadis di sekolahnya, tetapi dia tidak tahu siapa orangnya.

Surat-surat tentang cahaya cinta, begitu puitis sekali…

Andika tidak memusingkan surat-surat tersebut dan memutuskan untuk menyimpannya di rumah. Tidak membuangnya demi menghargai si pengirim surat, berharap bisa bertemu dengan orang itu untuk memberikan nasihat-nasihat yang baik tentang cinta menurut pandangannya yang masih idealis. Andika memang masih idealis. Walaupun dia sudah mengusahakan Rohis tampil secara inklusif di depan anak-anak SMA itu, Andika tetap menjaga dirinya terhadap hubungan kepada wanita, bergaul dan berteman dengan mereka sewajarnya, tanpa membawa perasaan apapun. Bahkan ketika Rohisnya diterpa gosip semester yang lalu kalau antara ketua dan ketua keputrian selalu berjodoh di masa depan, Andika tampak gusar hendak mematahkan gosip tidak perlu itu, “Saya yang akan menghapusnya, dan teman-teman tidak usah membuang-buang waktu mengurusi gosip tidak penting ini!”

Teman-temannya pun setuju, seiya-sekata, namun tidak bagi Aisyah Sinta Pertiwi, sang putri hakim agung ternama Indonesia, ketua keputrian Rohis SMA Yudhistira. Dia menjabat kedudukan ini, dengan tugas membawahi dan mengkoordinir seluruh kepentingan pelajar muslimah di sekolah. Sinta, sejak kelas satu, memendam cinta yang mendalam kepada Andika, tanpa sedikit pun cowok itu menyadarinya. Apalagi ketika gosip itu beredar selagi dirinya menjabat sebagai ketua keputrian, bersanding dengan Andika, dia terlihat menikmati sekali gosip itu diam-diam, bahkan hatinya berharap semoga gosip itu benar dan dia pun berdoa agar di masa depan bisa menjadi istri Andika kelak. Tentu saja dia leluasa berharap demikian, karena ayahnya, Krisna Saktiawan, bersahabat dengan Umar Yudhistira, ayah Andika, sekaligus CEO Yudhistira Group. Sinta yakin suatu hari kelak Andika dan dia akan dijodohkan.

“Tidak ada yang tidak mungkin, kan?” pikir Sinta, ketika matanya diam-diam melirik Andika yang sedang membaca buku di perpustakaan di seberang meja, tidak jauh darinya. Sekarang sebagai murid kelas tiga, mereka lebih banyak belajar dan membaca buku di perpustakaan. Anak-anak sudah menerka-nerka hendak ke mana mereka akan kuliah. Ada yang memilih ke luar negeri atau di dalam negeri. Hanya saja Andika dan Sinta belum memutuskan. Andika masih bimbang dan bingung hendak ke mana, tetapi Sinta tersenyum dalam hati, bahwa dia akan mengikuti ke mana saja Andika kuliah nanti.

Merasa ada yang sedang memandangi, Andika mengangkat kepalanya lalu menengok ke seberang meja, dan Sinta tiba-tiba menundukkan kepala dan sibuk mengalihkan perhatian ke bacaannya. Andika mengernyit, tetapi tidak bicara apa-apa. Kemudian handphone-nya tiba-tiba bergetar lalu dia buru-buru mengambilnya ke dalam saku celana dan membaca isi pesan yang masuk, “Andika, nanti sore ada pameran pendidikan perguruan tinggi Asia di Gedung Bhidakara, Kuningan. Kau mau ikut? –Chandra-”

Andika, begitu membacanya, entah kenapa dia tertarik, lalu dia balas mengetik, “Oke, insya Allah.”

Mendapat pesan masuk dari temannya, Chandra Yusuf, membuatnya sedikit bersemangat sehingga dia bisa mencari-cari pilihan yang terbaik baginya untuk masuk ke perguruan tinggi. Kemarin orangtuanya sempat menyarankan supaya dia kuliah di dalam negeri, entah UGM atau UI, dan dia masih belum bisa memutuskan mana yang paling baik untuk memilih salah satu di antara keduanya. Kalau dia kuliah di Jogja, dia juga tinggal bersama dengan neneknya di sana. Begitu juga kalau tetap memutuskan kuliah di Jakarta. Mendengar suara bel berbunyi, pertanda masuk kelas siang, Andika bergegas membereskan bukunya lalu buru-buru pergi ke luar perpustakaan. Sinta juga ikut keluar tapi tidak mengikutinya. Kelasnya berbeda. Tatapan matanya sedikit sendu, entah kenapa dia mengharapkan perhatian dari Andika. Walaupun cowok itu bukan siapa-siapa untuknya, apalagi predikatnya sebagai ketua keputrian, yang harus memberikan teladan yang baik bagi adik-adik kelasnya tentang menjaga perasaan cinta di dalam hati, tetapi dia sadar, dirinya tetap manusia biasa, yang merasakan perasaan jatuh cinta.

“Andika, ada surat lagi yang datang,” bisik Chandra, ketika teman sebangkunya sudah masuk kelas, dan guru belum datang. Seisi kelas masih gaduh dan ramai obrolan anak-anak.

“Lagi?” Andika mengerutkan kening seraya menerima surat yang dilipat rapi itu dari tangan Chandra.

“Ya,” Chandra mengangguk.

Andika mendesah kencang lalu memasukkan surat itu ke dalam tasnya yang digantung di atas kursi.

“Sebenarnya aku penasaran, dari siapa surat itu sebenarnya?”

“Sama aku juga,” kata Andika, membuka buku pelajaran Ekonomi-nya.

“Kau tidak mau cari tahu?” kata Chandra.

Andika menggeleng-geleng, “Tidak usah, aku tidak mau terpengaruh. Nanti juga muncul sendiri orangnya.”

“Kalau dia muncul, kau mau apa?”

“Mengajaknya berteman,” Andika tersenyum kecil, sambil menatapnya, tepat saat guru Ekonomi mereka masuk ke kelas. Cowok itu begitu serius sekali mendengarkan penjelasan-penjelasan guru soal masalah ekonomi, bisnis dan akuntansi berikut teori-teorinya. Dia tidak ingin kehilangan momen dari setiap materi yang diajarkan. Andika harus menguasainya, karena di masa depan kelak, dia akan menjadi pewaris tunggal Yudhistira Group dan meneruskan kepemimpinan ayahnya. Bel pulang sekolah berbunyi setelah dua jam pelajaran melelahkan serta menjemukan bagi anak-anak dirasakan, Ekonomi dan Sosiologi. Padahal dua pelajaran ini adalah pelajaran penting di kelas IPS dan kelak akan berguna bagi mereka di masyarakat setelah dewasa. Andika menggendong tasnya, tersenyum kepada Chandra. Keduanya sudah berjanji akan ke gedung Bhidakara bersama-sama sore ini.

“Aku jadi penasaran siapa tahu ada yang bisa menarik minatku di sana,” ujar Andika.

“Tentu, namanya juga kita mencari-cari pilihan,” kata Chandra, santai. Mereka menumpang mobil yang dimiliki oleh Andika. Sebulan yang lalu genap usianya tujuh belas tahun sehingga dia sudah berhak memiliki sim dan menyetir. Mobil pun melaju menembus keramaian di tengah jalanan kota Jakarta menuju Gedung Bhidakara.

Sesampainya di sana, suasana pameran-pameran perguruan tinggi Asia itu penuh sesak. Ada banyak sekali stan-stan yang menjamur di sana, dimulai dari negara-negara Asia Tenggara, Asia Timur hingga Timur Tengah. Tetapi ketika Andika melangkah di depan stan perguruan tinggi Korea, dia menghentikan langkahnya seraya melihat stan itu. Entah kenapa hatinya tiba-tiba terbalut rasa penasaran yang begitu tinggi. Melihat foto-foto pemandangan sebuah negeri bernama Korea, lengkap dengan lanskap gedung-gedung modern maupun tradisional, disertai foto-foto perguruan tinggi yang dimaksud, seperti Seoul National University, Kyunghee, Hongik, Busan National University…

Korea…

Chandra pun akhirnya memperhatikan sahabatnya yang dari tadi melamun dan menegurnya pelan, “Andika, kau ingin masuk ke stan itu?”

“Yuk, aku penasaran ingin tahu,” ajak Andika seraya masuk ke stan perguruan tinggi Korea itu.

Chandra pun mengikutinya. Mereka melihat panitia-panitia penjaga stan itu tidak hanya orang-orang Indonesia saja, melainkan juga orang-orang Korea asli yang bertindak selaku perwakilan dari kampus-kampus tersebut. Andika melihat seorang wanita Korea muda, duduk santai sambil berbincang akrab dengan salah satu pengunjung, menjelaskan tentang perguruan tinggi tempat asalnya. Dia memberikan penjelasan tentang seluk-beluk Seoul National University, salah satu kampus paling elit dan ternama di Korea. Terletak di ibukota Seoul. Untuk bisa masuk ke sana sangat sulit, dan seorang mahasiswa asing harus belajar bahasa dulu selama setahun di sana.

“Seoul National University…” gumam Andika, membaca salah satu brosur yang ditaruh di atas meja stan.

Tidak lama kemudian wanita muda Korea itu memperhatikan Andika, dan melempar senyum ramah, “Are you high school student?”

“Yes we are,” jawab Andika dengan bahasa Inggris, membalas keramahannya dengan senyum yang sama, “Bagaimana saya harus masuk ke Seoul National University?”

“Kau benar-benar ingin masuk ke perguruan tinggi kami?” kata wanita tersebut. “Tidak ingin melihat-lihat dulu yang lain?”

“Ya, saya ingin mengetahuinya,” kata Andika, mengangguk.

“Oke,” kata wanita itu dengan lembut. Kemudian dia menjelaskan kembali bahwa Andika harus lulus kemampuan bahasa Korea atau TOPIK sampai ke level tiga, termasuk persyaratan-persyaratan lainnya yang dibutuhkan oleh Seoul National University untuk menerima mahasiswa baru. Andika harus belajar bahasa terlebih dulu di sana selama setahun, dan setelahnya dia dapat mengikuti kuliah secara normal. Dia juga dapat mendaftar secara online melalui situs universitas. Tahun akademik di Korea dimulai pada saat musim semi, berbeda dengan Indonesia yang dimulai pada musim panas. Oleh karena itu, Andika nampaknya harus mendaftar di tahun depan setelah kelulusannya, tepat pada saat musim gugur telah dimulai di Korea.

“Saya harap kau bisa masuk ke kampus kami dengan nilai yang terbaik, dan bisa belajar dengan keras selama kau masih sekolah di sini,” kata wanita itu, memberikan nasihat. “Persaingan masuk ke SNU sangat ketat sehingga kau harus berjuang sungguh-sungguh untuk bisa mendapatkannya. Kau sanggup?”

Andika menimbang-nimbang sejenak, kemudian memandang Chandra lalu tersenyum penuh keyakinan sambil mengangguk kepada wanita itu, “Saya sanggup!”

“Good luck!” kata wanita Korea itu.

“Thank you very much for your advice and information,” kata Andika, menganggukkan kepala, hendak beranjak pergi membawa brosur-brosur dan panduan yang diberikan kepadanya.

“Your welcome.”

Di mobil, selagi mereka berhadapan sekali lagi dengan kemacetan di jam pulang kerja, dan Andika yang ingin mengantar Chandra pulang ke rumahnya di Cililitan, sahabatnya kemudian bertanya, “Kau yakin ingin ke Korea?”

“Aku ingin mencobanya,” kata remaja berkacamata itu dengan penuh tekad.

“Tetapi kupikir kedua orangtuamu ingin kau tetap kuliah di dalam negeri,” kata Chandra.

“Iya, sih,” desah Andika, melajukan mobilnya pelan-pelan di depan sebuah mobil Avanza berwarna putih. “Aku akan membicarakannya baik-baik dengan mereka.”

“Kenapa kau tiba-tiba tertarik ingin ke sana?” tanya Chandra lagi.

“Entah,” Andika mengangkat bahu, “aku tiba-tiba merasa ingin tahu dan ada perasaan yang membuatku tertarik ingin ke sana. Aku tidak tahu kenapa, dan perasaanku jatuh begitu saja hendak memilih.”

Chandra menarik napas dalam-dalam, “Aku hanya bisa memberikan saran saja. Sebaiknya kau mempertimbangkan baik-baik terhadap pilihanmu, Andika. Kalau perlu shalat istikharah, dan bicarakan lagi dengan ayah dan ibumu. Mudah-mudahan Tuhan memberikan petunjuk.”

“Amin…”

Usai pulang ke rumah, Andika membaca kembali persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi ketika memasuki Seoul National University. Dia sendiri masih bingung dengan alasannya kenapa memilih kampus tersebut. Bukannya Andika tidak memikirkan kuliah di UI atau UGM. Dia juga mau masuk ke salah satunya, tetapi hatinya masih bingung dan belum mantap memilih. Masih belum yakin terhadap keduanya. Namun begitu melihat stan SNU, hatinya tiba-tiba langsung tertarik begitu saja dan dia begitu yakin memilih.

“Kalau perlu shalat istikharah…”

Terngiang kembali nasihat sahabatnya supaya dia melaksanakan shalat istikharah guna memantapkan pilihannya. Andika menghela napas. Benar sekali, barangkali dia harus shalat istikharah, berdoa kepada Allah, semoga dia bisa mendapatkan petunjuk yang terbaik dari-Nya dalam memilih perguruan tinggi yang diinginkannya. Malam itu dia membicarakannya dengan kedua orangtuanya. Ayah dan ibunya nampak khawatir dengan keinginan Andika hendak kuliah ke luar negeri. Karena dia adalah anak tunggal mereka. Namun Tuan Umar tidak ingin memaksakan kehendak kepada Andika. Dia menyarankannya supaya menjalankan shalat istikharah. Maka, pada sepertiga malam dia menunaikan shalat tahajud, witir dan istikharah, bermunajat kepada Allah sepenuh hati, memohon petunjuk dari-Nya, tentang pilihan yang diinginkannya. Air matanya menitik, mengharapkan keridhaan-Nya.

Cahaya cintaku…

Mengapa kau tak pernah membalas isi suratku?

Apakah kau tak pernah mengetahui

Betapa aku mencintaimu?

Cahaya cintaku

Aku tahu tidak memaksakan isi hati dan perasaanmu

Tetapi kumohon,

Sekali ini saja, balaslah suratku

Sungguh aku ingin menemuimu

Walaupun keadaannya tidak memungkinkan bagi diriku

Tangan Andika bergetar membaca kembali isi surat yang sama, datang kepadanya pagi ini. Lagi-lagi surat yang sama, selalu tentang cahaya cinta. Siapa sesungguhnya gadis ini? Siapa dia sebenarnya? Semakin lama Andika semakin penasaran ingin mengetahuinya.

PLOK!

“Astaghfirullah!” seru Andika kaget ketika pundaknya dirangkul tiba-tiba oleh Chandra dari belakang. “Kau membuatku kaget saja!”

Chandra nyengir, “Maaf kawan, surat itu lagikah?”

Andika ingin sekali meremas surat ini, tidak tahan lagi, tetapi dia tetap menahan diri, “Aku benar-benar tidak habis pikir siapa sih pengirim surat ini?”

“Suratnya datang sebelum kau masuk ke kelas?” tanya Chandra, sambil mengedarkan pandangan ke kelas yang mulai dimasuki murid satu persatu. Andika dikenal sebagai siswa yang selalu datang ke kelas duluan daripada teman-temannya.

“Seperti biasa,” gerutu Andika.

“Bagaimana kalau kita tangkap pelakunya?” Chandra tersenyum tipis.

“Caranya?” Andika mengernyitkan alis.

Chandra membisikkan rencananya ke telinga sahabatnya, lalu Andika pun mengangguk, “Oke, aku setuju!”

Keesokan harinya, usai shalat subuh, Andika meminta pembantunya menyiapkan kotak bekal makan pagi, buru-buru hendak berangkat ke sekolah. Ibunya keheranan melihat, “Mau ke mana kau pagi-pagi?”

“Ke sekolah,” jawab Andika.

“Iya, tapi mau apa pagi-pagi begini, Andika?” tanya Nyonya Nur Wulandari.

“Ada urusan yang harus kukerjakan di sekolah, Bunda,” kata Andika seraya mengecup kening ibunya, “aku pergi dulu.”

Nyonya Nur hendak memanggil putranya lagi, tetapi dia tidak sempat bicara karena Andika sudah melesat keluar rumah dan menaiki mobilnya. Pagi seperti ini, kondisi Jakarta tidak terlalu ramai. Andika bisa memacu mobilnya dengan cepat, setengah mengebut. Sesampainya di sekolah, suasana masih sepi. Hanya ada satpam sekolah dan beberapa orang petugas kebersihan yang heran melihat seorang pelajar tiba-tiba datang sangat awal dari biasanya.

“Kau datang cepat sekali,” kata si satpam, kebingungan, sambil membuka gerbang sekolah.

“Ya, Pak, ada yang ingin saya lakukan,” kata Andika.

“Aku heran sekali ada apa dengan anak-anak di sekolah ini,” ujar si satpam, “beberapa hari terakhir ada seorang gadis yang juga sama sepertimu, tiba lebih awal, dan sekarang kau juga. Masuklah.”

Andika mengerutkan kening. Seorang gadis? Ternyata satpam itu tahu. Tetapi dia tetap melajukan mobilnya masuk ke halaman parkir sekolah. Andika akan mengetahui gadis itu tidak lama lagi. Dia akan tertangkap basah kali ini. Maka, Andika menyantap sarapannya di dalam mobil sambil menunggu kedatangan Chandra. Tidak lama kemudian sahabatnya pun datang seraya mengetuk pintu mobilnya. Mereka berdua segera masuk ke dalam gedung sekolah, sampai tiba di lorong menuju kelas mereka. Keduanya memutuskan bersembunyi di ujung lorong lain, mengintai siapapun sasaran yang akan datang.

Beberapa menit berselang, target yang mereka incar rupanya sudah datang. Seorang gadis berseragam putih abu-abu, rambutnya dikuncir satu. Celingukan melihat kiri dan kanan sambil membuka pintu kelas yang sudah tidak dikunci. Andika dan Chandra mengendap diam-diam sambil mengintip dari luar jendela kelas. Ternyata gadis itu memasukkan sesuatu seperti amplop ke laci meja Andika.

“Kita cegat dia…” bisik Chandra di belakangnya, dan Andika mengangguk.

Setelah gadis itu memasukkan amplop di laci meja Andika, dia bergegas keluar kelas, dan tepat saat itu, Chandra dan Andika berhasil mencegatnya di hadapan, “Tertangkap basah!”

Gadis itu kaget bukan main, belum lagi ditambah malunya yang luar biasa. Dia gelagapan dan panik melihat Andika dan Chandra di hadapannya. Maka, Chandra pun merendengi gadis itu dan membawanya paksa ke lapangan sekolah, di bawah tiang bendera untuk menginterogasinya, “Siapa kau?”

Gadis itu menelan ludah, tidak menyangka aksinya kali ini akan ketahuan juga dan dia pun tertangkap basah oleh mereka.

“Ayo jawab…!” desak Chandra.

Gadis itu menghela napas, “Nayla Fransiska.”

“Nayla… Nayla…” Chandra mencoba-coba mengingat, “kalau tidak salah kau dari kelas tiga IPA satu, kan?”

“Benar sekali,” jawab Nayla.

“Jadi, kau yang diam-diam menuliskan surat ini lalu mengirimkannya ke Andika?” Chandra menunjukkan surat-surat yang dibawanya pagi ini. Dia mendapatkannya dari Andika kemarin sore ketika berkunjung ke rumah untuk mendapatkan bukti ketika mereka hendak menangkap pelaku pengiriman surat tersebut.

“Bukan aku,” desah Nayla.

“Hei, jangan bohong kau,” sergah Chandra, terus menginterogasinya, tidak mempedulikan tatapan anak-anak lain yang melewati mereka, karena sekolah mulai didatangi kembali oleh murid-murid.

“Aku tidak bohong,” kata Nayla, “memang aku yang menaruh surat-surat itu di laci meja Andika, tapi bukan aku yang menulisnya.”

Chandra mendengus sebal, “Astaga, aku tidak percaya mendengarnya. Dia yang menaruh tapi tidak mau mengaku menulisnya…!”

“Kalau bukan kau lalu siapa lagi?” tanya Andika, tenang.

“Sahabatku,” kata Nayla, “dia yang memintaku untuk mengirimkannya kepadamu, lalu setiap pagi aku ke sekolah lebih awal untuk menaruhnya di laci mejamu. Sahabatku selama ini diam-diam menaruh hati kepadamu, tetapi sangat malu untuk mengungkapkannya, dan dia memintaku menyampaikannya kepadamu.”

“Siapa sahabatmu dan kenapa dia menyuruhmu?” kata Andika ingin tahu.

“Salsabila Ahmad, saat ini dia dirawat di rumah sakit,” kata Nayla, menjaga suaranya agar tidak bergetar karena ingin menangis, mengingat sahabatnya, “karena… leukimia.”

Andika dan Chandra membelalakkan mata. Leukimia…

“Itulah alasannya kenapa dia tidak bisa menyampaikannya langsung kepadamu,” kata Nayla dengan raut muka yang sedih, “dokter memvonis penyakitnya sudah memasuki stadium tiga sehingga dia harus dirawat intensif di rumah sakit. Salsabila sangat malu menyimpan perasaannya kepadamu selama tiga tahun. Dia tidak tahu kapan dirinya akan menemui kematian, maka, dia sangat berharap ingin berjumpa denganmu. Menginginkan balasan suratmu.”

Andika tertunduk, tidak sanggup berkata apa-apa. Tidak menyangka apa yang didengarnya. Hatinya tiba-tiba menaruh simpati dan rasa kesedihan yang mendalam.

“Maafkan aku, Andika, telah membuatmu merasa tidak nyaman selama hari-hari ini,” kata Nayla dengan perasaan bersalah. “Sebenarnya aku bisa saja menyampaikannya langsung kepadamu, tetapi Salsabila tidak mau. Dia ingin menyampaikannya lewat surat, dan aku-lah yang harus membawanya ke sekolah.”

“Di mana dia dirawat?” Andika menarik napas.

“Rumah sakit Dharmais,” kata Nayla, tersenyum lemah.

“Baiklah, insya Allah aku ke sana sehabis pulang sekolah untuk menjenguknya,” kata Andika, “kau mau ikut, Nayla?”

“Tentu,” kata Nayla.

Pulang sekolah, Chandra dan Nayla menumpang mobil Andika, dan ketiganya segera berangkat ke Slipi. Pada saat yang bersamaan, Sinta yang sedang berjalan di tengah halaman sekolah sambil memeluk buku di dadanya, memandang mobil Andika dengan perasaan ingin tahu. Namun tidak hanya itu saja. Ada perasaan aneh yang membuat hatinya tiba-tiba terbakar melihat seorang gadis masuk ke pintu belakang mobil Andika. Tidak biasanya Andika membawa gadis ke dalam mobilnya. Sinta tahu siapa gadis itu. Nayla Fransiska, tetangga kelasnya di tiga IPS dua. Seorang gadis non muslim yang ramah, supel dan sangat bersahabat kepada siapa saja. Rasa penasaran sekaligus perasaan aneh itu menguasai dirinya.

“Kak Sinta, kok bengong?” tegur adik kelasnya yang juga berjilbab, persis dari belakangnya.

Sinta terkejut, dan buru-buru mengubah ekspresi wajahnya, “Bukan apa-apa. Aku pulang dulu, ya?”

“Iya, Kak,” adik kelasnya mengangguk.

Sementara itu, di Slipi, ketiga pelajar itu sampai di Rumah Sakit Dharmais. Gedungnya bersebelahan dengan Rumah Sakit Harapan Kita yang warna gedungnya khas kehijauan. Andika segera masuk ke dalam bersama kawan-kawannya menuju lift ke lantai tempat Salsabila dirawat. Mereka berjalan di lorong rumah sakit, pintu-pintu kamar inap berjajar rapi, lalu Nayla segera menunjukkan pintu di sudut lorong, “Salsabila di sini.”

Nayla mengetuk pintunya pelan-pelan lalu mengajak mereka masuk ke dalam. Apa yang dilihat Andika, cukup memprihatinkan baginya. Seorang gadis lain terbaring lemah dengan wajah yang sangat pucat. Putih sekali. Tangannya pun diinfus. Nayla segera menghampirinya usai mencium tangan ibu Salsabila dengan takzim, lalu memeluk Salsabila, “Sahabatku…”

Salsabila balas memeluk Nayla dengan hangat. Kondisi tubuhnya lemas sekali. Matanya sendu. Lalu dia melihat Andika dan Chandra, dan tiba-tiba saja dia sedikit terkejut dan malu menyaksikan pemuda yang sejak lama didambanya telah hadir di depan matanya. Kemudian dia menggenggam tangan Nayla, “Kau… membawanya… ke sini?”

“Iya, Salsa,” jawab Nayla, “aku menceritakan semuanya kepada Andika, dan dia ingin menjengukmu, bersama temannya.”

Mukanya memerah melihat pemuda tujuh belas tahun berkacamata itu. Seperti melihat cahaya di depan matanya. Cahaya cinta yang berpendar di dalam hatinya. Malu sekali karena selama beberapa hari ini dia telah menuliskan surat-surat cinta itu, tentang permintaannya, tentang harapannya, agar Andika bersedia menjadi cahaya cinta baginya. Salsa bukannya tidak tahu kalau Andika adalah ketua Rohis. Tentu saja dia tahu bagaimana etika pergaulan anak-anak Rohis yang tidak mau berpacaran, tetapi cintanya sedemikian dalam kepada Andika. Salsa ingin sekali merasakan cinta itu sekali saja, walaupun dia tahu itu belum waktunya, sedangkan bayang-bayang kematian berada di hadapannya. Salsa belum tahu kapan dia akan menjemput maut. Oleh sebab itu dia ingin sekali bertemu dengan Andika. Sekali ini saja dia ingin bertemu. Salsa pun menitikkan air mata. Sedih…

Andika melihat air mata yang menitik itu, dan hatinya kembali tergerak dengan rasa iba dan simpati yang mendalam. Teringat semua pesan-pesan cinta yang dituliskan Salsa di dalam surat-surat itu. Maka, dia melangkah mendekati Salsa seraya menyapanya dengan senyuman yang lembut, “Apa kabar, Salsa?”

“Andika, kau datang…”

“Mungkin selama ini kita jarang bertemu, jadi aku tidak ingat namamu sebelumnya. Maafkan aku,” kata Andika.

Salsa terdiam sesaat, dan ibunya memberi penjelasan, “Selama tiga tahun dia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sakit, sehingga jarang datang ke sekolah. Tetapi prestasi belajarnya baik sekali sehingga bisa naik kelas sampai sekarang. Salsa jarang punya waktu bermain bersama teman-temannya, karena kondisi tubuhnya yang terus melemah. Aku sedih sekali ketika mendengar kabar bahwa dia harus dirawat sepenuhnya di sini. Saya memohon kalian semua mendoakan kesembuhannya.”

Baik Chandra, Andika, dan Nayla, semuanya menundukkan kepala. Ketiganya merasa ikut bersedih, dan hati mereka sama-sama mengucapkan doa untuk Salsa.

“Saya bersedia menjadi temannya, Ibu,” kata Andika.

Semuanya menatap Andika, kemudian Salsa berceletuk pelan, “Kau ingin menjadi temanku?”

“Ya,” Andika mengangguk, tersenyum halus.

“Dan kau… ingin menjadi cahaya cintaku?”

Andika diam sesaat, lalu mengangguk. Tetap tersenyum kepadanya.

Salsa mulai terisak parau, “Terima kasih, Andika. Terima kasih…”

“Aku ingin berteman denganmu selamanya, dunia dan akhirat, insya Allah,” kata Andika.

Air mata Salsa pun mengalir deras membasahi pipinya. Teringat Allah di dalam pikirannya. Tuhan Yang Maha Menyembuhkan. Tuhan Yang Maha Kuasa, yang memberikan kebaikan tiada terhingga bagi seluruh hamba-hamba-Nya yang beriman. Tuhan Yang Maha Pemberi Karunia, dan salah satu karunia itu adalah cinta…

Lalu terucaplah lisan Andika mendoakan, “Allahumma rabbannas, adzhibil ba’sa isyfi antasyafi la syifa an illa syifauka syifa anla yughadiru bihii tsaqama…”

Setelah menjenguk Salsabila, Andika pun memberitahu kepada teman-teman Rohisnya perihal sakit yang dialami oleh Salsabila. Dia ingin mengajak mereka menjenguk Salsabila, sekaligus memberikan donasi untuk biaya rumah sakitnya. Maka, teman-temannya pun mengelilingi ruang kelas dan ruang guru, mengumpulkan donasi dari mereka yang telah mengetahui kondisi Salsabila, merasa iba kepadanya, berharap kesembuhan atas gadis itu. Wali kelasnya pun sempat menangis penuh haru, seraya curhat kepada anak-anak Rohis itu, “Saya turut sedih kepadanya, dia gadis yang pintar dan cerdas. Saya berterima kasih atas kepedulian kalian semuanya.”

Kemudian Andika bersama Sinta sebagai perwakilan dari Rohis, ditemani oleh Nayla dan Chandra, pergi ke rumah sakit menemui Salsa lagi. Gadis itu merasakan energi kebahagiaannya kembali ketika dijenguk dan didoakan oleh teman-temannya. Andika tampak ramah sekali, dan dia begitu santai dan akrab berbincang hangat dengan Salsa. Keakraban itu terus mereka lakukan selama berbulan-bulan. Andika menemaninya, bercerita tentang segala hal, termasuk impiannya yang ingin meneruskan perusahaan ayahnya. Tetapi dia belum memberikan perasaannya kepada gadis itu. Andika tidak memberikan apa-apa kecuali persahabatan yang hangat dan dekat. Tidak ada perasaan yang khusus sama sekali. Salsa pun merasakan itu. Dia merasa hubungan mereka bukanlah hubungan sepasang kekasih, tetapi hubungan pertemanan biasa. Hanya pertemanan. Andika memang tidak berkata apa-apa dan Salsa pun tidak memaksanya. Dia tidak mau menuntut jawabannya, sebab bagaimanapun perasaan seseorang memang berdasarkan kehendak hatinya. Sampai suatu hari di sore yang cerah di akhir minggu, Salsa, yang telah menemukan semangat hidupnya lagi, akhirnya mengatakan sesuatu kepada Andika, yang sejak lama dipendamnya dalam persahabatan mereka, “Aku berterima kasih kau telah menjadi cahaya cinta di mataku, Andika.”

Andika berceletuk sambil tertawa, mengupas mangga, “Terima kasih.”

“Tetapi agaknya kau belum menemukan cahaya cintamu.”

Andika meredakan sedikit tawanya, menatap Salsa, “Aku?”

“Ya, menurutku kau belum menemukannya,” kata Salsa, pelan.

“Kenapa?” tanya Andika, ingin tahu.

“Karena… aku merasa hatimu bukan untukku,” kata Salsa, “dan aku sangat bahagia dan bersemangat kembali telah mendapatkan sahabat yang baik seperti dirimu.”

“Aku belum mengerti,” kata Andika, seraya menaruh mangga kupasan itu di atas piring, “aku belum menemukan cahaya cinta, apa maksudnya?”

Salsa menghela napas sambil menerawangkan pandangan ke depan, “Apakah kau pernah jatuh cinta, Andika?”

Andika diam lagi lalu menggeleng.

“Itulah kenapa kau belum menemukan cahaya cintamu,” kata Salsa, tersenyum lembut, “kau belum pernah jatuh cinta. Tentu aku masih ingat nasihatmu dulu tentang menjaga perasaan cinta seperti yang telah diajarkan oleh agama, tetapi ketika kau berhadapan denganku, kau berbicara dengan sikap selayaknya sahabat, bukan kekasih. Kau memperlakukan diriku selayaknya teman, bukan kekasih. Namun ceritanya akan lain jika kau jatuh cinta dengan seorang gadis yang kelak akan menjadi pilihan bagi hatimu. Karena gadis yang tepat itulah yang akan menjadi cahaya cinta di matamu.”

Andika masih kebingungan mendengarnya, maka Salsa pun menjelaskan lagi dengan penuh kesabaran, “Kurasa kau ingat dengan surat yang dulu pernah kuberikan, tentang belahan jiwa? Tentang pasangan yang akan menjadi jodohmu, tentang pasangan yang kelak akan menjadi cahaya cintamu?”

Andika mencoba mengingat-ingat. Semenjak berteman dengan Salsa, dia terus membaca surat-surat itu, memuji tulisannya yang indah, dan kemudian dia teringat dengan isi salah satu surat yang disebutkan oleh Salsa, lalu mengangguk, “Kurasa aku ingat, tentang belahan jiwa itukah?”

“Ya, benar,” kata Salsa, “ketika kau menemukannya suatu hari, insya Allah kau akan mengerti, bahwa gadis itu kelak akan menjadi pasangan hidupmu. Menjadi cahaya cintamu.”

“Tetapi, bagaimana aku bisa tahu dia gadis yang tepat, sedangkan aku tidak ingin berpacaran sesuai adab agama?” tanya Andika. “Aku memilih ingin menikah langsung. Bagaimana aku bisa tahu kalau dia cahaya cintaku sedangkan aku harus menjaga isi hatiku dan perasaanku sebelum waktunya?”

Salsa tersenyum lagi, “Pertanyaan itu, belum akan kau dapatkan jawabannya sekarang. Tetapi seiring pengalaman hidupmu nanti di masa depan, maka pertanyaanmu itu akan terjawab dengan sendirinya, insya Allah.”

Masa depan…

Andika memikirkan kembali masa depan, tentang impiannya yang ingin kuliah ke Korea sepenuh hatinya sejak tiga bulan terakhir diizinkan oleh kedua orangtuanya. Bahkan ketika Salsa mengetahui impiannya itu, gadis itu pun mendukungnya sepenuh hati.

Masa depan…

Dia teringat lagi dengan keputusan spontannya dulu yang tiba-tiba langsung menjatuhkan pilihan kuliah ke Korea. Adakah hubungannya dengan ucapan Salsa sekarang? Cahaya cinta? Andika masih kebingungan memikirkannya. Bingung sekali.

Semester baru telah masuk. Semester ini adalah semester terakhirnya di kelas tiga SMA, dan Andika sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua Rohis sejak melepaskan jabatannya pada saat kongres pemilihan ketua liburan semester yang lalu. Kini pemuda itu sepenuhnya berkonsentrasi belajar dan lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan dan ibadah ketimbang bermain bersama teman-temannya. Hanya Salsa, Chandra dan Nayla yang menemaninya belajar. Nayla ingin masuk ke Fakultas Kedokteran UI, sedangkan Chandra memilih Fisipol UGM. Kemudian Andika memilih College of Business Administration Seoul National University. Dia benar-benar harus berjuang keras untuk bisa masuk ke kampus tersebut. Mengikuti kursus bahasa Inggris dan Korea sekaligus kursus privat untuk menghadapi Ujian Nasional-nya nanti. Salsa sendiri belum tahu hendak memilih kuliah apa, barangkali dia berniat mengabdikan dirinya hidup di pesantren. Mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah banyak bersahabat dengan Andika, dia menjadi dekat kembali kepada Islam. Mengenal ajaran agamanya lebih baik lagi.

Tetapi di tengah kesibukan belajar murid-murid kelas tiga, hanya Sinta yang tampaknya mulai frustasi sendiri. Doa dan dzikir serta tilawah telah berusaha dia lakukan, namun pikirannya tentang Andika terus saja mengganggu dirinya. Hatinya entah bagaimana membara penuh cemburu begitu teringat keakraban dan kedekatan Andika dengan Salsa. Walaupun Andika terus menerangkan bahwa mereka hanya sahabat biasa, tetapi kecemburuannya tetap saja menguasai hatinya. Sinta pun tidak kuasa menahan tangis di setiap malam, sampai terisak memikirkan perasaan cintanya kepada Andika. Tidak berani mengungkapkan perasaannya, dan dia tidak bisa melakukannya karena batasan agama yang menerapkan adab serta etika demikian demi menjaga hubungan laki-laki dan wanita. Sinta malu sekali. Ingin sekali dia hidup di masa lalu di mana orang-orang zaman dahulu pernah menikah muda, seperti Ali dan Fatimah, seperti Usamah bin Zaid dan istrinya. Dia ingin sekali, meskipun pada masa sekarang, menikah dini rasanya sulit. Sinta menangis dalam sujudnya. Dia jatuh cinta kepada Andika… mencintainya, berharap agar pemuda itu suatu saat memahami perasaannya, mengerti dirinya dan bersedia mengulurkan tangan untuk melamarnya.

Aku mencintaimu, Andika

Sampai mendarah daging

Aku ingin sekali menjadi cahaya cinta di matamu

Andika…

“Aku ingin masuk ke Fakultas Hukum UGM!” ucap Sinta kepada ayahnya, Tuan Krisna Saktiawan, pada hari Minggu berhujan di waktu pagi.

“Kenapa?”

“Aku ingin mengikuti jejak Mbak Khadijah,” kata Sinta seraya melirik kakaknya yang sedang menyantap makan pagi. Kakaknya sekarang telah memasuki semester tiga dan pulang karena sedang ada urusan di Jakarta.

“Mengapa kau tidak mempertimbangkan UI supaya tidak terlalu jauh dari rumah?” tanya Nyonya Utari Ratnasari.

“Pokoknya aku tidak mau berpisah dengan Mbak Khadijah,” Sinta menggeleng-gelengkan kepala.

“Sinta…” Nyonya Utari memberikan nada penekanan, tetapi Tuan Krisna terkekeh geli, “Anak keras kepala.”

“Aku memang keras kepala seperti Papa,” celetuk Sinta.

“Baiklah, kalau kau sudah memutuskan demikian, silakan, yang penting kau senang dengan pilihanmu. Papa tidak bisa memaksamu.”

“Papa,” Nyonya Utari memberikan pandangan tidak senang.

“Tidak apa-apa, Ma, biarkan saja Sinta yang memilih. Jangan sampai kita memaksakan kehendak,” kata Tuan Krisna.

“Iya, tapi kau tahu, kan, Jogja itu jauh?” kata Nyonya Utari, cemas.

“Tenang saja, Ma,” kata Khadijah, “insya Allah aku akan menjaga Sinta baik-baik di sana.”

“Terima kasih, Mbak!” celetuk Sinta gembira.

Khadijah Ratu Mahardika, tertawa geli seraya mengelus kepala adiknya, “Baiklah, kau harus belajar dengan baik supaya bisa masuk Fakultas Hukum UGM.”

Sinta mengangguk antusias lalu memandang ayahnya lagi, “Papa, aku mau bicara sesuatu, berdua saja setelah makan, tapi.”

Tuan Krisna dan istrinya saling berpandangan, heran, tapi Tuan Krisna mengangguk, “Di balkon seperti biasa, ya.”

“Oke!” ujar Sinta, tersenyum tipis, tetapi entah kenapa senyumannya agak sedikit berbeda. Seperti senyuman yang misterius.

Usai sarapan, Sinta naik ke atas menuju balkon rumah menunggu ayahnya. Ini adalah salah satu kebiasaannya sejak kecil. Apabila ada yang ingin dibicarakan hanya berdua dengan ayahnya, dia selalu membicarakannya di balkon ini. Tidak lama kemudian Tuan Krisna datang dengan raut muka yang serius, “Bagaimana Sinta, apa yang ingin kau bicarakan?”

“Papa,” kata Sinta, menarik napas, “kalau tidak salah Papa berteman dengan Om Umar Yudhistira, kan?”

“Ya, beliau teman Papa sejak kecil, tetapi kenapa?” kata Tuan Krisna, sedikit bingung dengan pertanyaan anak gadisnya.

Sinta tersenyum misterius lagi, “Kalau insya Allah nanti Sinta lulus dengan nilai yang terbaik dari Fakultas Hukum UGM kelak, aku ingin mendapatkan hadiah spesial dari Papa.”

“Lama sekali kau menginginkannya,” kata Tuan Krisna keheranan, “kenapa tidak setelah lulus dari SMA saja? Sebentar lagi kau Ujian Nasional.”

“Tidak, Papa,” Sinta menggeleng, “setelah aku lulus kuliah, dengan nilai yang terbaik, empat atau lima tahun lagi, aku ingin mendapatkan hadiah paling istimewa seumur hidup bagiku dari Papa.”

“Memangnya kau menginginkan hadiah apa?” Tuan Krisna semakin tidak mengerti memandang anaknya. Tidak biasanya Sinta mengucapkan suatu permintaan yang aneh, apalagi hadiah entah apa yang diinginkannya, dan kenapa harus empat atau lima tahun lagi?

Sinta tersenyum misterius, “Pernikahanku dengan Andika Yudhistira.”

Tuan Krisna membelalakkan matanya selebar mungkin. Apa katanya? Pernikahan dengan Andika Yudhistira? Andika, putra temannya itu? Penerus Yudhistira Group?

“Papa tidak salah dengar, sayang?” bibir Tuan Krisna bergetar, masih shock.

“Tidak, Papa, aku serius. Hadiah itulah yang kuinginkan. Pernikahanku dengan Andika Yudhistira,” ucap Sinta dengan raut muka yang sendu, “Aku mencintai pemuda itu, dan sesuai dengan batasan agama, aku tidak mungkin berpacaran dengannya kecuali menikah. Maka, kumohon, Papa, nikahkan aku dengannya. Kumohon…!”

Tuan Krisna menelan ludah. Tidak sanggup berkata-kata lagi setelahnya.

Bulan demi bulan berlalu, Ujian Nasional telah tiba. Seluruh anak-anak kelas tiga berkutat dengan soal-soal ujian mereka selama dua minggu. Usai menjalani ujian, mereka pun bergembira hati sambil berharap-harap cemas agar mendapatkan nilai yang terbaik di pengumuman kelulusan nanti. Ketika pengumuman itu datang di bulan Juli, bergembiralah hati mereka ketika semuanya lulus seratus persen. Tidak sedikit dari mereka yang sujud syukur. Termasuk Andika yang kini bisa fokus sepenuhnya memantapkan bahasa Inggris dan Korea-nya guna masuk ke Seoul National University musim semi tahun depan. Dia telah melakukan pendaftaran, menyaksikan teman-temannya satu persatu masuk ke perguruan tinggi pilihan mereka, termasuk Nayla dan Chandra. Meskipun Nayla masih di Jakarta menemani Salsa, tetapi Andika merasa berat harus berpisah dengan Chandra. Kedua sahabat itu saling berpisah jalan, saling mengingatkan untuk memberikan kabar.

“Semoga kau diterima di Korea,” ujar Chandra.

“Terima kasih atas doanya, kawan,” Andika merangkulnya erat-erat sebelum melepasnya berpisah di stasiun Jatinegara.

Chandra menepuk pundaknya seraya melambaikan tangan hendak melangkah menuju peron untuk naik kereta yang akan mengantarkannya ke Yogyakarta.

Soekarno-Hatta International Airport.

Januari.

Malam itu, Andika dan Salsa saling melemparkan senyuman. Sekarang kondisi gadis itu telah membaik, sedikit demi sedikit, dan sekarang dia telah memakai jilbab. Salsa juga telah diterima di salah satu pesantren di Kuningan, Jawa Barat. Ke sanalah dia ingin belajar agama sepenuhnya. Tidak hanya mereka berdua saja, Chandra yang baru pulang dari Jogja ikut mengantar kemudian Nayla yang kini sudah menyelesaikan semester pertamanya dan sedang liburan juga ikut mengantar kepergian Andika ke bandara, beserta Tuan Umar dan Nyonya Nur. Andika menyaksikan mata ibunya yang sembab karena menangis haru. Berat hati ibunya harus berpisah dengan putra tunggalnya, jauh merantau ke negeri asing. Tanah yang asing. Di seberang lautan. Andika merasakan kesedihan yang sama ketika memandang ibunya, lalu menghambur ke dalam pelukannya, menangis tersedu-sedu memohon pamit yang sedalam-dalamnya, memohon doa penuh ketulusan dari ibunya. Nyonya Nur menangis lagi sambil membelai kepala anaknya, mengecup keningnya berulang kali, “Baik-baiklah kau di negeri orang, putraku. Ingatlah Tuhanmu selalu, ingatlah orangtuamu selalu, ingatlah teman-temanmu dan negaramu selalu. Pulanglah kemari setelah kau mendapatkan ilmu yang kau cita-citakan, anakku. Bunda akan selalu berdoa untukmu…!”

“Hatiku selalu bersama denganmu, Bunda…” isak Andika.

“Bunda juga, sayangku,” kata Nyonya Nur parau, membelai pipi anaknya, mengusap air matanya, “Bunda mencintaimu selalu.”

“Terima kasih, Bunda,” Andika mencium tangan ibunya dengan takzim, selanjutnya dia juga berpelukan dengan ayahnya, mencium tangannya dan mendengarkan seucap doa yang dibacakan oleh Tuan Umar. Kemudian dia menatap Chandra, Nayla dan Salsa, “Aku berangkat.”

Chandra merangkul erat sahabat lamanya kembali setelah berbulan-bulan tidak berjumpa, “Selamat berjuang, kawan!”

“Hati-hati,” kata Nayla, tersenyum tulus, “semoga kau sukses di sana.”

“Terima kasih,” kata Andika, kemudian dia gantian memandang Salsa, “semoga aku bisa menemukan cahaya cinta seperti yang dulu pernah kau jelaskan kepadaku.”

Salsa tersenyum, “Insya Allah, sahabatku, semoga kau bisa menemukannya.”

“Aku berangkat dulu, sampai bertemu kembali di Indonesia!” Andika berseru penuh semangat menuju pintu keberangkatan yang dijaga oleh petugas imigrasi, membawa dua koper besar dan ransel gunung, melambaikan tangan kepada mereka. Semuanya pun turut balas melambaikan tangan. Sampai ketika Andika telah menghilang di balik pintu kedatangan itu, datanglah seorang gadis berjilbab besar yang sedikit berlari terburu-buru menghampiri mereka. Nafasnya kencang sekali, terengah-engah. Mukanya tampak khawatir. Chandra mengernyit, “Sinta, kapan kau datang ke Jakarta?”

Baru saja hari ini, dan aku langsung melesat ke terminal internasional,” Sinta mengatur napasnya. “Andika? Di mana dia? Apa dia sudah berangkat?”

“Sayang sekali kau terlambat,” kata Chandra, “seharusnya kau memberitahuku juga kalau ingin ke Jakarta kemarin untuk mengantar Andika ke bandara.”

Sinta terhenyak. Terlambat. Dia tidak sempat melihat wajah orang yang paling dirindukannya itu. Wajah orang yang paling dicintainya itu. Matanya berubah sendu. Perasaannya campur aduk. Perpisahan ini seperti menyakitkan dirinya. Tidak mau percaya. Andika, kenapa kau pergi secepat ini? Padahal aku belum sempat melihatmu. Andika…

Sinta tidak menyadari kalau Salsa memperhatikan ekspresi wajahnya dengan seksama. Hatinya bertanya-tanya, apakah jangan-jangan gadis ini…?

Seoul, Korea.

Bulan Januari, musim dingin masih menerpa rumah-rumah dan gedung-gedung tinggi di kota metropolitan bernama Seoul. Andika baru saja sampai di kota itu, pada siang hari setelah berangkat dari Jakarta pada malam hari. Salju masih bertumpuk dengan tebal di jalan-jalan kota Seoul yang indah dan rapi. Tangannya kerepotan membawa dua koper besar, menyeretnya di tengah sebuah pemukiman, kawasan distrik Yongsan. Punggungnya terasa lelah memanggul ransel yang berat, seusai turun dari bus yang mengantarnya dari bandara. Badannya menggigil kedinginan. Bingung arah dan tersesat. Hendak meminta tolong kepada orang-orang di sekitarnya, mencoba mengucapkan bahasa Korea berbekal hasil kursusnya di Indonesia, tetapi mereka belum paham sama sekali apa yang dia katakan, apalagi setiap orang yang dia jumpai rupanya tidak bisa berbahasa Inggris juga. Padahal dia ingin pergi ke Gwanak, menuju kampusnya yang terletak di distrik tersebut. Andika belum menyadari kalau rupanya dia salah rute naik bus dan terdampar di distrik lain, di utara kota, padahal distrik Gwanak berada di selatan Seoul.

Tidak kuat lagi menahan kelelahan dan kedinginan, dia pun terpaksa duduk di bangku depan minimarket yang kosong. Tangannya memeluk badan, mengusap-usap mantelnya agar merasa hangat. Ketika tadi dia di halte, menunggu bus, setiap kali ada bus yang sampai, Andika berupaya bertanya dengan bahasa Inggris sebisanya, tetapi supirnya hanya menjawab, “Ini bukan rute menuju Seoul National University. Ini di distrik Yongsan, Bung!”

Andika cemas. Padahal hari semakin sore dan mulai gelap. Andika berdoa kepada Allah di tengah kota yang asing ini, berharap adanya pertolongan.

“Jogiyo, sepertinya kau kedinginan.”

Andika mengangkat mukanya. Seorang gadis remaja Korea, poni rambutnya yang panjang menutupi dahinya, mukanya manis sekali, masih berseragam SMA dengan lambang sekolah dan label nama di seragamnya, menggendong tas. Pipinya lesung, tampak ramah. Ukuran tubuhnya sekitar 155 sentimeter. Entah kenapa Andika merasa ada yang aneh di hatinya memandang gadis SMA itu. Ada perasaan yang belum pernah dikenalinya memasuki relung-relung jiwanya. Gadis itu tersenyum tulus sambil mengulurkan segelas plastik berisi cokelat hangat, bicara dalam bahasa Korea, “Tadi aku di minimarket, melihatmu tampak kedinginan sekali. Ini cokelat hangat untukmu.”

“Eh?” Andika mencoba memahami bahasa Korea yang diucapkannya, tetapi sulit juga.

“Are you foreigner? Looks like you are lost here,” ucap gadis itu dengan bahasa Inggris dengan lancar sekali.

Andika terkejut, “Can you speak English?”

Gadis itu tertawa, “Of course, my English always good in class! How can I help you, Sir?”

“Please, don’t call me Sir. Just call me Andika, and can you help me, please?”

“Okay, I can help. Where are you going?” tanya gadis itu.

“I want to go to Gwanak district, because my campus is in Gwanak district. Seoul National University, do you know?”

“Oh, no,” kata gadis itu dengan raut muka yang sedih, “I think you are in wrong place. Because this is Yongsan district, not Gwanak. SNU ada di selatan kota ini. Kau berada di utara.”

Andika menunduk kecewa, salah rute. Salah alamat. Seharusnya dia bertanya sejak di bandara tadi. “Sekarang apa yang harus saya lakukan? Saya sungguh tidak tahu ada bus ke Gwanak atau tidak. Apa kau bisa menolongku?”

“Don’t worry,” kata gadis itu, “untuk sementara kau bisa menginap dulu di rumah ibuku, bagaimana?”

“Menginap di rumah ibumu?” tanya Andika heran.

“Ya, malam ini,” gadis itu mengangguk, “besok pagi aku akan mengantarmu ke Gwanak.”

“Kenapa tidak sekarang saja?” kata Andika.

“Kalau sekarang terus terang aku tidak bisa, aku disuruh pulang oleh ibuku untuk membantunya,” kata gadis itu, “tapi kalau kau benar-benar mendesak sekali, aku bisa mengantarmu ke kantor polisi terdekat biar mereka yang menolongmu secepatnya.”

Andika menghela napas, “Baiklah, aku bersedia menginap di rumah ibumu.”

“Oke, silakan diminum dulu cokelatnya!” celetuk gadis itu menampakkan kegembiraannya seraya menyodorkan cokelat hangat itu lagi.

Andika tersenyum kecil seraya mengucapkan terima kasih dan menyeruput cokelat itu. Terasa nikmat sekali. Memang dia belum minum apa-apa dari tadi. Sangat haus dan belum berani membeli apa-apa di minimarket tersebut karena keraguan atas kehalalan dan kendala bahasa. Setelah meminumnya, dia mengikuti gadis itu memasuki tengah pemukiman sampai di depan sebuah toko kelontong yang berseberangan dengan sebuah apartemen kecil berlantai lima. Andika kebingungan melihat toko buah itu, “Kau tadi bilang di rumah…?”

“Ibuku pemilik toko ini,” kata gadis itu menjelaskan, “dan rumah kami di lantai atas,” lalu dia menyapa ibunya yang sedang menghitung kalkulator di meja, “Omma, ada tamu!”

“Nugu?” Ibunya mengangkat muka, dan alisnya mengerut heran melihat seorang pemuda asing bersama dengan putrinya. Dia pun menatap putrinya penuh selidik, “Hyun Jung, siapa pemuda ini?”

“Orang ini tersesat, Omma, dan aku ingin menolongnya mengantarkan dia ke SNU di Gwanak besok. Oleh karena itu aku memohon izin Omma agar dia bisa menginap di rumah, hanya malam ini saja.”

“Mwo?” si ibu terkejut, sementara anaknya mengangguk. Mukanya penuh harap, sedangkan Andika hanya diam saja. Dia semakin kedinginan. Malam telah datang menjelang. Belum shalat dan lapar pula.

“Tapi… tapi…” ibu itu langsung terbata-bata kalimatnya.

“Kumohon, Omma, sekali ini saja. Kita harus menolong orang,” bujuk gadis itu.

Ibu itu memandang Andika yang pucat wajahnya akibat kedinginan dan hatinya mulai menaruh iba kepadanya. Maka, dia berdiri, memutari meja, dan berbicara kepada Andika, “Aigoo, kasihan sekali kau, Nak, tampak kedinginan begitu.”

“Saya… saya tersesat, Madam…” kata Andika, gugup.

“Baiklah, kalau begitu, kau boleh menginap dulu di sini malam ini. Besok anakku akan mengantarmu ke Gwanak.”

“Terima kasih, Madam.”

“Panggil aku Nyonya Kim,” kata ibu ramah, akhirnya, “siapa namamu?”

“Andika Yudhistira,” jawab Andika dengan santun.

“Aku Na Hyun Jung,” kata gadis itu ikut memperkenalkan diri.

Andika menatap senyumannya yang manis itu. Entah kenapa indah sekali senyumannya, dan tiba-tiba saja hatinya bergetar tanpa alasan. Na Hyun Jung…

“Silakan masuk ke dalam dulu,” kata Nyonya Kim, membawanya naik ke atas toko.

Di dalam, Andika melihat seisi rumah yang tampak sederhana dan kecil. Hanya ada dua kamar, satu kamar mandi, satu ruang dapur, dan ruang tengah yang multifungsi menjadi ruang makan sekaligus ruang keluarga. Berkumpul di sana sambil menonton televisi, dan ditengahnya ada sebuah meja dan sofa yang sudah lusuh. Nyonya Kim mengizinkannya beristirahat di ruang tengah itu. Menyediakan makanan dan minuman hangat. Tetapi sebelumnya, Andika memohon dengan sangat terpaksa, mengatakan kalau dia adalah seorang vegetarian, demi menghargai tuan rumah. Beristighfar karena telah berbohong, sebab Andika sedang tidak ingin berbicara soal agama saat ini. Nyonya Kim mengangguk mengerti, dia menghidangkan makanan yang terdiri dari sayuran kepada Andika, dan teh hangat.

Sepanjang malam Andika beristirahat hingga akhirnya sampai sepertiga malam, Andika mencoba bangun shalat tahajud di ruang tengah itu. Menerka-nerka arah kiblat dan dia pun menjalankan shalat dengan khusyuk. Tidak mengetahui ada seorang gadis yang rupanya juga terbangun di tengah malam, keluar dari kamarnya mengenakan piyama yang menutup rapat tubuhnya dari tangan hingga mata kaki. Tertegun melihatnya sedang sujud. Ada rasa penasaran memasuki relung hatinya kepada sosok Andika, pemuda tampan dan berwajah teduh yang ditemuinya sore kemarin di depan minimarket itu.

Ketika pagi telah datang, Andika memohon pamit seraya mengucapkan terima kasih setelah menghabiskan sarapannya yang lagi-lagi hanya sayuran. Tetapi dia tidak mengeluh sama sekali. Na Hyun Jung menemaninya ke Gwanak, menaiki subway yang ramai oleh penumpang. Dengan ceria dan ramah, gadis itu menjelaskan segalanya tentang Korea, budaya dan bahasanya serta tempat-tempat terkenal di Seoul, menambah ketertarikan Andika kepada Korea. Sesampainya di kampus SNU, Andika menyelesaikan urusan administrasinya di sana sementara Hyun Jung menungguinya. Setelah selesai, Andika berkeinginan mencari tempat tinggal, dan meminta saran dari Hyun Jung sekiranya dia mengetahui.

“Aku tahu tempatnya!” ujar Hyun Jung.

“Di mana?” tanya Andika.

“Di depan rumahku ada apartemen,” kata Hyun Jung, “kau juga melihatnya, kan?”

“Ya,” Andika mengangguk.

“Aku kenal baik pemilik apartemen itu, dia teman baik ibuku. Kebetulan ada satu hunian yang kosong di apartemen itu. Kalau kau tidak keberatan, boleh tinggal di sana.”

“Benarkah? Terima kasih, Miss Na,” kata Andika, bersemangat.

Hyun Jung tertawa, “Jangan panggil aku Miss Na. Panggil aku Hyun Jung saja. Aku boleh memanggilmu Andika?”

Lagi-lagi hatinya berdesir mendengarkan kalimat Hyun Jung, dan Andika pun menjawabnya dengan tersenyum tulus, “Ya.”

“Yuk.”

Mereka berdua pergi ke Yongsan lagi dan sampai di depan rumah Hyun Jung. Gadis itu mengajaknya masuk ke apartemen di seberang jalan dan bertemu dengan si pemilik apartemen. Memberikan penawaran harga yang terbaik kepada Andika dan pemuda itu pun bersedia. Kamarnya terasa cocok dan nyaman. Andika mulai suka, apalagi jendelanya pun menghadap ke jalan.

“Kapan-kapan aku boleh meminta bantuanmu lagi, Hyun Jung?” tanya Andika, memandang gadis itu, berusaha menahan dirinya agar tidak ada getaran aneh di hatinya.

“Tentu saja,” kata Hyun Jung tersenyum tulus. Pipinya lesung sekali ketika dia tersenyum, “kau boleh meminta bantuanku kapan saja.”

“Terima kasih, Hyun Jung.”

“Sama-sama, Andika.”

Senyumannya mempesona sekali. Sangat mempesona. Belum pernah Andika melihat senyuman seorang gadis yang sedemikian menawan seperti ini, padahal dulu di sekolahnya, ada banyak gadis yang menyukainya, tetapi baru kali ini, entah kenapa, dia tiba-tiba merasa ada perasaan tertarik yang aneh melihat senyuman menawan itu. Belum pernah dia merasakan perasaan seperti ini. Getaran hatinya semakin terasa, tanpa bisa dicegah lagi. Tiba-tiba saja dia teringat cerita Salsa dulu di rumah sakit tentang cahaya cinta. Tentang dirinya yang akan menemukan cahaya itu suatu saat apabila telah merasakan jatuh cinta, dan kini seolah-olah Andika telah menemukannya.

Na Hyun Jung…

Apakah dia cahaya cinta yang sesungguhnya…?

 

Nantikan kisah selengkapnya di I Miss You Dwilogy! ^_^

 

Namaku Bu Yong

hipnoza 13

Bu Yong means lotus flower…. (Rooftop Prince SBS Drama).

Namaku Bu Yong, ibuku menamaiku supaya kau secantik bunga lotus katanya. Ah, bunga lotus? Seumur-umur hidup belum pernah kulihat bunga seperti itu. Kata ibuku sih, kalau mau lihat, bisa juga kok di Istana Changdeok. Ada salah satu paviliun yang namanya sama denganku. Paviliun Bunga Lotus. Aduh, senangnya, membuatku sangat tersipu mendengarnya. Kudengarkan lagu-lagu kesukaanku di earphone yang kupasang di kedua telingaku. Kepalaku bergoyang sambil menikmati nyanyian SHINee. Kyaa, aku suka sekali mendengarkan suara Minho oppa…![1]Aku cekikikan sendiri tanpa melihat ekspresi para pelanggan toko yang sedang mengantri menunggu belanjaan mereka untuk segera dibayar. Aku terlalu keasyikan mendengarnya sampai tidak sadar sama sekali kalau sudah lebih dari lima menit mereka menunggu!

“Ya, Bu Yong-sshi![2]Kau mau kerja atau mendengarkan lagu, hah?” tiba-tiba earphone-ku langsung ditarik paksa lalu refleks aku menengok. Astaga, aku kaget. Manajerku tampak marah. Sejak kapan dia di sini? Kemudian aku segera membungkuk sambil meminta maaf kepadanya dan para pelanggan minimarket di depanku, “Joseonghamnida! Joseonghamnida…!”[3]

Manajer cuma geleng-geleng kepala di sebelahku sementara aku cuma nyengir kuda melihat ekspresi masam para pelanggan. Aduh, kasihan, maaf, ya. Hehehe…

“Kau ini, kalau tidak serius kerja, sebaiknya berhenti saja!” umpat Manajer setelah giliranku menjaga minimarket habis. Tidak habis-habis aku terpaksa membungkuk sambil meminta maaf.

“Kalau sekali lagi kau ulangi, kujamin berikutnya kau tidak akan pernah menginjakkan kaki di toko ini lagi,” ancam Manajer, “arasseo?”[4]

“Saya mengerti,” kataku sambil membungkuk lagi. Kemudian aku keluar dari toko. Kurapatkan jaket dan syalku. Uh, udaranya dingin sekali. Padahal sudah bulan Februari tapi kenapa masih dingin juga? Oh musim semi, kapan dia datang? Kupasangkan lagi earphone di telinga, mendengarkan lagu Miss A sekarang. Hmm, aku iri, seandainya aku bisa setenar mereka, para artis K-Pop itu. Aku mau sekali. Jadi, tidak perlu capek-capek menjaga toko seperti ini, siang dan malam bergantian. Kalau jadi artis, aku tinggal pergi kemana saja aku suka, diperhatikan banyak orang, banyak penggemar, tidak perlu susah payah dan uang langsung datang mengalir. Enak, kan?

Kutendang kaleng bekas di trotoar sambil berjalan di atas trotoar. Kupandang jalanan kota Seoul yang ramai dengan lampu-lampunya yang gemerlap. Aku tersenyum sendiri sambil mendengarkan suara-suara Suzy, Min, Jia dan Fei[5] di telingaku, berdentum-dentum, memukul gendang telingaku. Namaku Bu Yong, penyuka K-Pop. Aku sangat hafal semua artis-artis dan penyanyi K-Pop mana saja. Kau mau bertanya padaku tentang 2PM? Apa yang ingin kau ketahui dari mereka? Tentu saja aku tahu. Aku pernah mendapatkan tanda tangan langsung dari Taecyeon[6], asli! Bahkan aku pernah berjabat tangan langsung dengan Jessica dan Krystal[7], kakak beradik Jung itu…

Bohong! Tiba-tiba ada teriakan lain masuk ke dalam telingaku. Sumpah, aku nggak bohong, kok. Iya deh, tapi kan tidak ada salahnya. Aku nyengir sendiri, tidak sadar ada beberapa orang yang melihat. Tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Ah, masa bodoh. Ngomong-ngomong, kau tahu tidak, diantara semua penyanyi K-Pop, yang paling kusukai tentu saja adalah IU. Aku tidak tahu kenapa sangat suka sama dia. Aku ingin punya suara sebagus IU. Seandainya aku bisa berjumpa dengan IU lalu ikut menyanyi bersama-sama.

“Aku pulang!” sapaku begitu sampai di rumahku di distrik Gangnam. Tempat minimarket aku bekerja dengan rumah jaraknya tidak jauh, setengah jam saja berjalan kaki. Melelahkan memang, tapi aku sudah terbiasa. Kulihat seisi rumah. Ada ibuku dan kakakku, keduanya sedang duduk di depan meja. Ibu sedang menonton televisi dan kakak membaca. Aku tersenyum melihat mereka, setengah berlari sambil memeluk ibuku dari belakang, “Omma.”[8]

“Hmm, kau sudah pulang, Bu Yong,” kata ibuku sambil membelai tanganku yang masih mengeratkan pelukan. Kucium pipinya lalu kusapa foto seseorang yang ditaruh di atas meja, “Appa.”[9]

Ayahku, beliau meninggal waktu aku baru masuk SMP. Sudah lama sekali. Makanya sejak saat itu, ibuku yang membanting tulang untuk menafkahiku dan kakakku menjadi pedagang ikan di pasar tradisional Seoul. Aku masih tersenyum mengamati fotonya sampai kakakku menyahut dari seberang meja, “Sampai kapan kau akan memandang foto Appa? Sebaiknya kau ganti baju dan mandi. Bau tahu…!”

Aku merasa tersindir mendengarnya. Kupandang wajah kakakku, Hwa Yong yang ketus, “Apa sih, Unni?”[10]

“Kubilang, kau bau,” ujar Hwa Yong, “jadi, jauh-jauh dariku sebelum kau menebarkan wewangian di sini.”

“Enak saja, aku tidak sebau itu!” balasku.

Hwa Yong menyeringai, “Buktinya, aku bisa mencium baumu dalam radius dua meter.”

“Oh, dua meter,” sindirku, “barangkali penciumanmu harus diperiksa, Unni.”

“Tidak perlu diperiksa pun, penciumanku sangat tajam dan masih normal, kok,” kata Hwa Yong, “makanya bisa berfungsi baik mencium baumu dalam radius dua meter.”

“Mwo?”[11] kataku, tidak terima.

“Sudah, kalian berdua!” kata ibuku tiba-tiba, menyela pertengkaran kami. Dia menatapku, “Selalu saja bertengkar. Kau masuk ke kamar dan mandi sekarang…!”

Kudengar Hwa Yong tertawa, “Kubilang juga apa.”

“Omma,” protesku.

Tapi ibuku langsung memberikan pandangan memperingatkan. Aku beringsut berdiri dengan muka menekuk. Kulihat kakakku menjulurkan lidahnya dengan tatapan mengejek. Ih, awas, ya! Aku berjalan naik tangga menuju kamarku di atas. Kemudian kurebahkan diriku di atas tempat tidur. Menjengkelkan. Kakakku selalu saja mencari gara-gara denganku. Tapi ibuku malah lebih sering membelanya daripadaku. Uh, menyebalkan! Menyebalkan! Kemudian kubalikkan badanku, mendongakkan kepala, memandang poster wajah IU yang kutempelkan di dinding kamar, dekat dengan tempat tidur. Senyumannya menawan. Aku bermimpi suatu hari ingin menjadi seperti IU kemudian tampil di atas panggung dengan suaraku yang memikat lalu kulihat wajah kakakku yang terpojok karena berhasil kukalahkan! Aduh, senangnya kalau itu benar-benar terjadi, jadi dia akan kehabisan kata-kata untuk mengejekku.

Namaku Bu Yong. Sayangnya, aku hanya seorang gadis biasa-biasa saja dengan penampilan serba biasa. Berbeda dengan kakakku yang sangat cantik dan menjadi pusat perhatian para cowok di kampusnya di Kyung Hee. Kakakku bercita-cita menjadi dokter, senang membaca dan mendengarkan musik klasik. Berbeda dengan diriku yang menurut orang adalah gadis aneh, tidak menarik, dan sekali lagi berpenampilan sangat biasa. Tapi aku merasa senang-senang saja dengan penampilanku yang seperti ini. Aku percaya diri menjadi diriku sendiri tanpa mempedulikan apa kata orang.

Besoknya, aku bangun dari kamarku, bergegas merapikan diri lagi lalu turun ke bawah untuk sarapan. Setelahnya aku mau pergi ke toko kaset untuk mencari-cari lagu baru. Aku bersiul-siul sendiri sambil duduk di depan meja makan. Ibuku menyendokkan makanan sambil tersenyum padaku, “Semangat sekali pagi-pagi, Bu Yong.”

“Tentu saja, Omma,” balasku. Tidak kupedulikan ekspresi kakakku yang langsung mencibir.

“Mau ke mana kau, rapi sekali?” tanya Hwa Yong.

“Ada deh,” ujarku sambil melahap nasi. Hwa Yong semakin mencibir tapi kemudian memutuskan mengangkat bahunya. Begitu selesai kusantap, kukecup pipi ibuku lalu bergegas keluar rumah, “Aku pergi…!”

Bahagia, sangat bahagianya aku pagi ini. Udara sejuk di akhir musim dingin menerpa wajahku. Kunikmati pemandangan bangunan-bangunan dan seluruh jalanan dalam kota. Dari kejauhan aku bisa melihat Menara Seoul yang menjulang tinggi. Sesekali kusapa orang yang kutemui di jalan. Mereka seperti canggung lalu tersenyum membalas sapaanku. Ah bahagianya, tidak tahu kenapa aku merasa sangat bahagia sekali pagi ini. Lalu aku berhasil menemukan toko kaset yang kuinginkan dan masuk ke dalamnya untuk mencari kaset-kaset lagu baru. Aku bersenandung sendiri sambil melihat-lihat kaset itu. Kemudian kuambil salah satunya untuk membaca sampulnya…

BRUK!

“Joseonghamnida…!”

Aku kaget sekali sampai kotak kaset yang kupegang itu terjatuh. Kulihat seseorang yang menabrakku itu mengambil kotak DVD yang terjatuh lalu memberikannya padaku. Orang itu mengangguk dengan tatapan bersalah sekaligus menyesal kepadaku, “Saya minta maaf, tidak sengaja menabrak Anda.”

Aku heran memandangnya. Kenapa gadis itu sangat berbeda sekali penampilannya denganku dan juga yang lain? Penampilan pakaiannya tidak seperti gadis Korea kebanyakan. Yeah, wajahnya juga bukan wajah orang Korea tapi pakaiannya benar-benar lain. Gadis itu mengenakan pakaian yang panjang menutupi seluruh tubuhnya. Kepalanya pun tertutup kain yang lebar sekali sampai menutupi bagian depan dan belakang tubuhnya. Aku masih terkesima sampai gadis itu menegurku sambil melambaikan tangan di depan mukaku, “Gwenchana?[12]Ini kasetnya saya berikan. Saya benar-benar minta maaf, tidak sengaja menabrak Anda.”

Aku segera sadar kembali. Lalu kuterima kotak kaset DVD itu lalu kuperiksa baik-baik. Untunglah tidak ada yang pecah atau retak. Gadis itu berkata lagi, “Saya benar-benar minta maaf. Kotak kasetnya tidak apa-apa, kan?”

Kupandang gadis itu sambil tersenyum, “Aniya[13], kotaknya tidak apa-apa, kok. Dan saya baik-baik saja.”

“Syukurlah,” kata gadis itu sambil membalas senyumku. Tatapannya entah kenapa sejuk sekali begitu aku memperhatikannya. Rasanya ada yang lain dari gadis ini. Hatiku seperti bergetar. Kenapa, ya?

“Kalau begitu, saya mohon permisi dulu,” gadis itu segera mengangguk kemudian pergi melewatiku lalu berjalan keluar dari toko. Kupandang gadis itu. Ada perasaan takjub sekaligus heran dari hatiku. Kenapa aku pertama kali melihat sosok gadis yang seperti ini? Penampilannya benar-benar lain. Siapa dia, ya? Dari mana asalnya?

Setelah aku membeli kaset DVD itu, aku berjalan kaki lagi. Jalan-jalan di Seoul sudah sangat biasa bagiku tapi entah kenapa sangat menyenangkan. Aku suka hidup di kota ini. Seakan telah menjadi bagian dari hidupku. Tapi sayangnya aku hanya bisa menikmati jalan-jalanku sampai siang saja. Nanti sore aku harus kerja lagi. Uh, ketemu manajer cerewet itu, deh. Tapi salahku juga sih kemarin. Bukannya kerja tapi malah mendengarkan lagu. Begitu sore tiba, aku sudah memakai seragamku lagi seperti biasa. Manajer sudah memasang muka waspada, seakan telah mewanti-wanti supaya aku tidak mendengar musik lagi. Tapi aku memasang senyum. Tentu saja aku tidak akan melakukannya lagi. Percayalah pada Bu Yong. Dia tidak akan melanggar janjinya! Hehehe…

Satu persatu pelanggan kulayani di meja kasir sampai kemudian seseorang menyapaku, “Kau Bu Yong, kan?”

Aku kaget. Sangat kukenal suara itu. Milik orang paling menyebalkan di kampusku, Seoul National University atau SNU! Kupandang wajah cowok itu dengan sikap muak, tapi demi menjaga profesionalitas kerjaku, maka aku memaksakan senyum, “Jadi, kau belanja juga di sini, Seok Ho?”

Cowok itu menyeringai sambil menyisir rambutnya dengan jari. Aku mau muntah melihatnya. “Aku tidak menyangka akan bertemu dengan seorang gadis paling aneh di kampus. Bu Yong. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar kakakmu?”

Aku menyipitkan mata menatapnya. Berani-beraninya dia bertanya tentang kakakku? Walaupun kakakku seperti itu, dia harus kulindungi dari playboy menjengkelkan ini. “Kenapa kau menanyakan kakakku?”

“Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya, itu saja,” kata Seok Ho, “bahkan kalau kami berkenalan, siapa tahu kita akan menjadi ipar.”

Aku semakin muak mendengarnya. Ipar? Tidak sudi! “Ehm, kau mau bayar atau tidak? Pelanggan yang lain mengantri di belakang.”

“Oh, begitu? Baiklah,” kata Seok Ho sambil tertawa menyorongkan barang-barang belanjaannya. Aku terbelalak melihatnya. Banyak sekali!

“Apa-apaan ini?”

“Kenapa? Aku tidak boleh beli banyak-banyak? Bukannya semakin banyak yang kubeli, tokomu semakin untung?” ujar Seok Ho sambil nyengir.

Aku hanya bisa menggeram sebal. Kemudian kuambil barang belanjaan itu satu per satu untuk kuhitung harganya kemudian kubungkus dengan kantung plastik lalu kuserahkan padanya.

“Terima kasih, Bu Yong, sampai ketemu di kampus. Oh, ya, sampaikan salamku untuk kakakmu. Sampai jumpa…!” dengan percaya diri Seok Ho pergi meninggalkan toko sambil melambaikan tangan. Aku cuma bisa menggertakkan gigi. Seandainya saja aku sedang tidak menjaga toko, sudah kutendang dia supaya tidak berani mengganggu kakakku!

Ah, siang dan malam berputar seperti biasanya. Benar-benar sangat biasa sekali kehidupanku ini. Tidakkah ada yang menarik? Aku ingin sekali saja menjadi berbeda. Berubah, tampil beda. Kupandang seluruh penampilan diriku di cermin di kamar. Benar-benar sangat biasa sekali diriku ini. Rambut hitam yang tergerai sampai bahu, dengan poni rata nyaris menutupi kedua alisku. Ada sedikit jerawat di pipiku. Hmm, benar-benar sangat biasa. Berbeda dengan kakakku yang selalu tampil cantik, mempesona dengan gaya rambut memukau. Aku benar-benar iri. Kemudian kudengar suara pintu diketuk dari luar lalu ibuku masuk ke dalam. Dia tersenyum sambil membelai rambutku, “Kenapa anakku tiba-tiba bercermin?”

“Omma, kadang-kadang aku iri dengan Unni, kenapa dia selalu tampil cantik, mempesona dan berbeda? Kenapa aku selalu biasa-biasa saja?” keluhku.

“Kata siapa?” kata ibuku dengan lembut. “Menurut Omma, kalian berdua tetaplah gadis tercantik di dunia ini.”

“Tapi Omma, aku berbeda,” kataku,”lihat saja diriku. Benar-benar sangat lain dan biasa sekali.”

“Bu Yong, kau tidak perlu mengikuti kakakmu,” kata ibuku, “jadilah dirimu sendiri. Apa adanya. Tidak perlu mendengarkan pandangan orang terhadap dirimu. Kakakmu punya gaya sendiri dalam hidupnya. Biarlah dia memilihnya. Dan kau juga, pilihlah apa yang terbaik menurutmu.”

“Tapi arti namaku sebenarnya adalah bunga,” kataku lagi, “bukankah bunga itu cantik?”

Ibuku tertawa, “Bunga lotus melambangkan kecerahan dan perdamaian, anakku. Kau tidak harus cantik secara fisikmu. Tapi kau harus menampilkan kecerahan dirmu yang sesungguhnya bagi semua orang.”

“Kecerahan?” tanyaku bingung.

Ibu mengangguk, “Betul, kecerahan. Itulah arti bunga lotus sebenarnya. Bunga lotus menyukai ketenangan di air yang lembut sehingga membuat orang yang memandangnya begitu tenang dan merasa sejuk hatinya. Itulah mengapa kami menamakanmu Bu Yong sewaktu kau lahir. Agar kau bisa mencerahkan bagi hati orang lain yang berduka hatinya. Serta menjadi penyemangat dalam hidup mereka.”

Aku mengangguk, mengerti sekaligus mulai memahami maksud ibuku. Barangkali beliau benar. Aku tidaklah harus cantik. Yang paling penting mulai sekarang aku harus menjadi orang yang bisa membahagikan orang lain dan membawa kecerahan di hati mereka. Keesokan harinya, aku berjalan-jalan lagi untuk mengisi liburan. Hwa Yong sudah pergi duluan bersama teman-temannya. Kali ini aku benar-benar sendirian. Kenapa dia tidak mengajakku, sih? Protesku dalam hati. Tapi ya sudahlah. Kunikmati udara pagi hari yang menyejukkan di taman Sungai Han yang terletak dekat dengan Jembatan Banpo. Menyenangkan melihat orang-orang berlari, bermain sepeda, bermain bola atau mengobrol. Aku suka memandang tepi sungai yang luas, jernih, bening dan bersih airnya. Membentang luas di hadapanku, membelah kota Seoul dengan indahnya. Nampak menawan dan memesona dengan kapal-kapal yang berlayar di atas permukaannya.

“Permisi, saya boleh duduk di sini?”

Aku segera menoleh sambil mendongakkan kepalaku. Seorang gadis berpenampilan aneh dan serba tertutup tersenyum menatapku. Aku mengerutkan kening. Rasanya aku pernah bertemu dengannya…

“Apa Anda tidak keberatan kalau saya duduk di sini?” tanya gadis itu lagi.

Aku segera menggeleng, “Tidak, tentu tidak. Silakan.”

“Gamsahamnida,[14]kata gadis itu dengan halus sambil duduk di sebelahku. Kupandang dia dengan seksama. Gadis itu membawa selembar kertas yang besar, sebuah kotak pensil dan pensil warna. Aku menatap heran kepadanya. Mau apa dia?

“Kemarin kalau tidak salah kita bertemu di toko kaset, kan?” kata gadis itu tiba-tiba.

“Eh?” aku langsung canggung membalas keramahannya.

Gadis itu tersenyum lembut sambil mengangguk, “Senang bertemu dengan Anda lagi.”

“Oh, sama-sama,” kataku, masih memandangnya yang sedang memegang pensil kemudian mulai menggambarkan sesuatu di atas kertas itu. Kulihat gadis itu begitu menikmati gambar buatannya. Baru kutahu ternyata dia sangat bagus sekali menggambar pemandangan Sungai Han di depannya.

“Kau senang menggambar, ya?” celetukku.

Gadis itu menengok, “Benar. Aku suka menggambar pemandangan apa saja lalu kujadikan dalam bentuk sketsa.”

“Lalu kau apakan sketsa itu?”

“Kukumpulkan sebagai koleksiku pribadiku. Ini hobiku saja,” kata gadis itu ramah.

“Oh, begitu,” kataku sambil mengangguk. Tanpa ragu kuulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya, “Namaku Bu Yong.”

“Fitria Nawangwulan,” kata gadis itu membalas jabat tanganku. Sentuhannya terasa halus sekali. Aku terkesima. Dia menjawab lagi, “Aku berasal dari Indonesia.”

“Kuliah?” tanyaku.

Gadis bernama Fitria itu mengangguk, “Di Seoul National University.”

“Benarkah?” aku terkejut. “Aku juga di sana.”

“Kejutan,” kata Fitria tersenyum halus.

“Tapi kenapa kita tidak pernah bertemu, ya?” kataku sambil mengakrabkan diri dengannya. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa nyaman sekali berada dekat dengannya. Sepertinya hatiku merasa tenang dan damai saat memandang wajahnya.

“Barangkali karena belum waktunya kita bertemu. Kau di fakultas mana?” tanya Fitria.

“Hukum,” kataku.

“Aku di Ilmu Sains, mengambil jurusan kimia,” katanya sambil terus menggoreskan sketsanya sampai membentuk gambar pemandangan di atas kertasnya, “barangkali karena letak fakultas yang agak jauh di dalam kampus serta kesibukan membuat kita hampir tidak pernah bertemu.”

Sebenarnya aku masih ingin bertanya banyak hal kepadanya, namun kuputuskan untuk tidak mengganggu keasyikannya menggambar. Kubiarkan dia menyelesaikannya dan setelahnya dia langsung gembira sambil berkata, “Alhamdulillah, sudah selesai!”

Aku tidak mengerti apa yang dia ucapkan di kalimat sebelumnya tapi kubiarkan saja sambil turut gembira seperti dirinya, “Sudah selesai, ya?”

“Sudah,” kata Fitria sambil memperlihatkan gambarnya padaku, “bagaimana menurutmu?”

Kupandang gambar pemandangan sungai Han itu lalu kubandingkan dengan pemandangan aslinya. Persis sama. Luar biasa bagus sekali gambarnya. Aku saja tidak bisa. Kupandang wajahnya yang teduh itu, “Bagus sekali!”

“Terima kasih,” katanya sambil menerima gambarnya kembali dari tanganku.

“Sejak kapan kau bisa menggambar… ah, maaf, aku boleh memanggilmu siapa…?” aku tiba-tiba lupa dengan nama apa harus kupanggil dia.

“Fitria saja,” katanya lagi, “aku sudah menggambar sejak kelas empat SD dan sejak saat itu sampai SMA, berkali-kali memenangkan penghargaan atas karya-karya lukisan yang kusertakan setiap lomba baik di tingkat provinsi maupun nasional.”

“Daebak[15],” kataku takjub mendengarnya.

“Biasa saja,” kata Fitria ramah.

“Lalu kau tidak meneruskannya lagi, Fitria?” tanyaku.

Fitri menggeleng, “Tidak, aku sudah memutuskan berhenti dan hanya menjadikannya hobi sekarang. Sekarang aku fokus dengan cita-citaku menjadi seorang farmasis.”

Aku mengangguk sambil diam. Dia memandangku, “Aku boleh memanggilmu Bu Yong?”

“Tentu,” kataku semangat, “senang bertemu denganmu, Fitria.”

“Aku juga, Bu Yong,” kata Fitria.

Pertemuan hari ini menyenangkan. Aku bertemu dengan seorang gadis Indonesia meskipun penampilannya aneh, tapi aku senang. Ini pertama kalinya aku merasa memiliki seorang teman. Tapi ngomong-ngomong, pakaian apa yang dikenakannya, ya? Aku ingin sekali bertanya padanya, tapi ragu-ragu. Tidak enak bertanya kepadanya. Kemudian di mana Indonesia itu? Pertama kali aku baru mendengarnya. Maka, kuputuskan untuk membuka internet di kamarku lalu mencari tentang Indonesia. Kemudian berhasil kutemukan.

Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia, terletak di Asia Tenggara. Berarti dekat dengan negaraku. Menyimpan kekayaan alam yang luar biasa berlimpah di buminya. Wah, hebat! Lalu kubaca lagi tentang pariwisata yang ada di Indonesia. Tana Toraja, batik, wayang, angklung, Bali, dan macam-macam lagi kutemukan. Tidak kusangka ada negara sehebat ini. Kenapa belum pernah kudengar negara ini sebelumnya? Apakah aku yang terlalu kuper mencari tahu atau…? Ah, sudahlah. Aku duduk sambil menopangkan tangan ke dagu. Kapan ya aku bisa bertemu dengan Fitria lagi? Aku ingin mengobrol banyak-banyak dengannya.

Hari ini aku sedang menaiki subway. Jalan-jalan lagi ke Istana Gyeongbok. Sisa liburan ini ingin kunikmati sampai masuk kuliah nanti. Kulangkahkan kakiku berjalan sepanjang Plaza Gwanghwamun yang ramai dengan orang dan kendaraan. Ini adalah pusat kota Seoul dengan dua patung perunggu menjadi simbol keagungan sejarah Korea di masa lalu, yaitu patung Laksamana Yi Sun Shin dan Raja Sejong. Tepat di belakang kedua patung itu, adalah pintu gerbang Istana Gyeongbok yang terkenal sebagai istana utama Dinasti Joseon. Di belakang istana, Gunung Bugaksan yang indah menjadi latar belakang pemandangannya. Sambil berjalan kaki, aku mendengarkan lagu-lagu MBLAQ dari earphone-ku. Kupandang gedung-gedung yang berjajar rapi di sekeliling Plaza Gwanghwamun. Sambil terus berjalan masuk ke gerbang Istana Gyeongbok.

Kemudian, lihatlah suasana yang megah ini di dalam! Aku seperti merasa masuk ke dimensi yang berbeda. Rasanya aku telah memasuki masa lalu era Joseon, membayangkan diriku menjadi putri raja. Hmm, menyenangkan… tapi aku tidak berlama-lama dengan lamunan itu. Aku berjalan lagi sambil memegang kameraku kemudian memotret setiap sudut bangunannya. Lingkungannya benar-benar indah sekali. Senangnya aku menikmati ini semua.

Kemudian aku pergi ke Paviliun Hyangwonjeong yang cantik dengan jembatan membentang di atas kolamnya yang besar. Aku ingin menikmati pemandangannya lalu tiba-tiba kulihat seorang gadis sedang tertidur di bawah pohon sambil memegang kertas besar di depannya. Aku tersenyum gembira lalu bergegas menghampirinya,”Fitria!”

Fitria bangun dengan kaget, lalu menatapku, “Bu Yong?”

“Aku tidak tahu kalau kita bertemu di sini,” kataku senang, “kau menggambar lagi, ya?”

“Ya, begitulah,” katanya, “dan pastinya aku ketiduran setelah menyelesaikannya.”

Kemudian aku melihat gambar Paviliun Hyangwonjeong yang dilukisnya. Bagus sekali, bahkan persis sama seperti aslinya.

“Kenapa kita selalu bertemu secara kebetulan, ya?” celetuk Fitria.

“Hmm, barangkali itu pertanda awal persahabatan kita,” kataku ceria.

“Eh? Persahabatan?” tanya Fitria.

“Maukah kau menjadi sahabatku, Fitria?” tanyaku sambil menatapnya.

“Mengapa?” tanya Fitria.

Aku menunduk dengan murung, “Sejujurnya aku tidak punya banyak teman selama kuliah dan sekolah dulu. Semua orang menganggapku gadis yang aneh dan penampilanku pun serba biasa, berbeda dengan kakakku yang begitu menarik dan mempesona setiap orang yang memandangnya. Rutinitasku pun hanya kerja sambilan, rumah dan kampus saja. Tidak pernah berubah. Aku belum pernah merasakan persahabatan yang sesungguhnya. Tetapi sejak bertemu denganmu, rasanya aku senang bisa punya teman akhirnya. Maukah kau berteman denganku?”

Fitria memandangku dengan seksama lalu mengangguk sambil tersenyum lembut, “Tentu, aku mau jadi sahabatmu.”

“Jinjja?”[16] tanyaku dengan semangat.

“Ya,” katanya.

Maka, dengan gembira aku mengacungkan jari kelingkingku kepadanya, menawarkan simbol persahabatan kami, “Ini sebagai pengikat persahabatan kita selamanya.”

Fitria tertawa kemudian dia mengaitkan jari kelingkingnya di jariku. Aku merasa bahagia sekali hari ini. Telah kutemukan sahabat sejati akhirnya. Ya, aku merasa Fitria adalah sahabatku. Hatiku merasa cocok dan nyaman saat bersama dengannya. Seperti yang telah kulalui selama hari-hari berikutnya. Kemudian aku pun bertanya tentang pakaiannya yang aneh. Pertanyaan yang selama ini kusimpan dalam hati.

“Ini adalah jilbab,” katanya sambil menjelaskan kepadaku. Malam itu kami sedang menyantap tteokbokki[17] yang lezat di pinggir jalan dekat Stasiun Gangnam.

“Jilbab?” tanyaku tidak mengerti.

“Agamaku sebenarnya Islam,” kata Fitria, “agama yang mayoritas dianut oleh penduduk Indonesia. Dibawakan oleh seorang pengemban risalah yang mulia dari tanah Makkah, yaitu Muhammad bin Abdullah. Agama kami merupakan agama yang berdasarkan wahyu Tuhan sebagaimana terdapat dalam kitab suci, yaitu Al-Quran.”

“Lalu hubungannya dengan jilbab apa?” tanyaku lagi.

“Jilbab adalah salah satu perintah Tuhan kami yang wajib kami pakai setiap hari bagi para wanita muslim. Pakaian ini kami pakai sebagai wujud keimanan kami kepada Tuhan dalam melaksanakan perintah-Nya. Demi menjaga kehormatan dan kesucian kami sebagai wanita,” kata Fitria.

“Aku masih tidak mengerti,” kataku. Bingung dengan semua penjelasannya.

Fitria tersenyum. “Maafkan aku bila menjelaskan dengan cara seperti ini. Sejujurnya aku sulit untuk menerangkannya. Tapi kalau kau mau mengetahui tentang Islam lebih dalam lagi, aku akan mengajakmu berkenalan dengan teman-temanku sesama muslim.”

“Di mana?” tanyaku, tertarik.

“Itaewon,” jawab Fitria.

Itaewon. Aku tahu nama daerah itu, sambil merenung kuingat baik-baik di dalam kamar. Itaewon adalah suatu daerah pusatnya para imigran di Seoul. Aku jarang ke sana, tapi yang kudengar kalau pergi ke Itaewon, seolah kau sudah tidak di Korea lagi tapi berada di negeri yang asing sebab mayoritas di sana memang imigran asing, bukan orang Korea. Itaewon… teman-teman Fitria di sana. Aku bisa menemui mereka di sana. Bertanya dan mencari tahu tentang Islam…

Islam…

Agama apa itu, ya? Mengapa Fitria memakai jilbab? Itu masih pertanyaan bagiku. Walau dia sudah menjelaskannya, aku tetap saja tidak mengerti. Maka, kuputuskan untuk mengirim sms ke nomor Fitria. Beruntung kami sudah memiliki nomor masing-masing. Aku memintanya untuk mengajakku bareng ke Itaewon. Aku ingin tahu Islam itu apa dan mengapa wanita muslim harus memakai jilbab. Fitria membalasnya dengan jawaban senang hati bahwa dia akan menemaniku. Aku tersenyum membacanya.

Keesokan pagi yang biasa, tapi bagiku ini akan menjadi beda sejak aku bersahabat dengan Fitria. Ini benar-benar berbeda. Sama sekali lain dari biasanya. Sudah tidak sabar aku ingin bertemu dengannya di stasiun. Aku bersenandung riang.

“Kau gembira sekali kelihatannya,” celetuk Hwa Yong memperhatikanku.

“Memang kenapa?” ujarku sambil sedikit menantangnya. “Tidak boleh?”

“Gadis kecil,” Hwa Yong menyeringai. Aku jengkel sekali mendengarnya. Gadis kecil? Enak saja, umurku kan dua tahun di bawahnya!

“Kalau kau terus begitu padaku,” kata Hwa Yong sambil tersenyum jumawa, “aku tidak akan mengajakmu menonton ini berdua,” dia memperlihatkan dua lembar tiket pertunjukan konser musik dengan IU sebagai penyanyi utamanya. Aku terpana sekali melihatnya. Dari mana dia mendapatkan tiket itu?

“Aku sengaja membelikan ini untukmu karena perhatianku sebagai kakak padamu. Kau sangat menggemari IU, kan? Makanya aku membelikan ini untuk kita berdua. Tapi karena sikapmu begitu padaku pagi ini, sepertinya aku berubah pikiran. Bagaimana kalau aku mengajak temanmu, siapa namanya? Seok Ho?”

Apa? Tiba-tiba hatiku memanas dan terbakar. Bagaimana mungkin kubiarkan kakakku berjalan bersama dengan cowok tidak tahu diri itu? Tidak bisa!

“Bagaimana adikku, sayang? Kau mau menontonnya atau tidak?” tanya Hwa Yong.

Aku berdeham, memperbaiki nada suara dan sikapku lalu tersenyum manis kepadanya. Demi apapun akan kulakukan supaya bisa menonton IU sekaligus mencegah kakakku bersama dengan cowok itu. “Baiklah, aku akan menonton bersamamu. Maafkan aku, ya, Unni. Kau sungguh baik padaku…!”

Hwa Yong menyindir, “Kalau ada maunya selalu saja memuji.”

Ih, sebal! Tapi dia benar, sih. Masalahnya ini adalah kesempatanku. Aku ingin melihat dan bertemu dengan IU. Makanya, aku pun terpaksa bermanis-manis muka kepadanya supaya tiket itu jatuh ke tanganku, hehehe!

“Unni baik, deh,” rayuku lagi sambil mengulurkan tangan hendak mengambil salah satu tiket itu.

“Eits,” Hwa Yong sambil menjauhkan dua tiket itu dari tanganku, “ada syaratnya.”

“Unni curang!” protesku. “Kenapa harus pakai syarat segala?”

“Ya sudah, kalau tidak mau, aku terpaksa mengajak Seok Ho,” ancam Hwa Yong.

Aku merengut sebal. Tapi terpaksa hanya diam menuruti, “Baiklah, apa syaratnya?”

Hwa Yong tersenyum, “Kau harus memijat tangan dan kakiku sebelum tidur sampai tiba konser ini diadakan. Kalau melanggarnya, maka aku akan mengajak playboy itu. Kupikir-pikir dia keren juga, sih…”

“Seok Ho itu memuakkan, keren dimananya?” kataku gusar. “Unni jangan mau terpengaruh buaya macam itu. Cari cowok lain saja!”

“Nah, kalau begitu kau jalankan saja syaratnya,” kata Hwa Yong, “mudah, kan?”

Aku mendengus tapi akhirnya mengangguk, “Baiklah, tapi kapan konsernya?”

“Pekan depan,” kata Hwa Yong, “susah-susah kudapatkan tempat yang enak untuk kita berdua. Kuharap kau senang saat menontonnya nanti, adikku. Nih, tiketnya, simpan. Jangan sampai hilang.”

“Terima kasih,”kataku sambil menerima tiket konser itu dari tangannya. Kutatap sekilas Hwa Yong yang tersenyum kepadaku. Senyumannya beda sekali. Lain dari yang biasanya. Dia mengelus kepalaku lalu pergi.

Siang harinya, aku menemui Fitria yang telah menungguku di stasiun Yongsan. Jilbabnya tampak rapi, anggun dan menawan sekali. Diam-diam aku suka dengan penampilannya. Fitria kelihatan sederhana dan mempesona di mataku. Dia tersenyum ramah kepadaku, “Kita ke Itaewon sekarang.”

“Benarkah di sana ada teman-temanmu?” tanyaku.

“Teman-temanku sesama muslim,” kata Fitria, “kau akan senang bergaul dengan mereka. Bertanya banyak hal tentang jilbab dan Islam kepada mereka. Dengan senang hati mereka akan menjawab semua pertanyaanmu.”

“Semoga,” ucapku dengan lirih.

Kami terus berjalan kaki sambil mengobrol. Darinya aku mendapat penjelasan tentang Islam termasuk asal usulnya di Indonesia. Dia berasal dari Bogor, Jawa Barat. Ayahnya adalah pengusaha perkebunan sedangkan ibunya meninggal sewaktu dia masih tiga tahun. Aku sedih sekali mendengarnya. Ternyata kami senasib. Aku tidak punya ayah dan dia tidak punya ibu. Tapi dia beruntung, ayahnya menikah lagi jadi dia tidak kehilangan kasih sayang seorang ibu. Ibu tirinya yang sekarang adalah guru SMP.

Dia memakai jilbab sejak memasuki SMP karena pendidikan agama yang kuat dalam keluarganya. Ibu tirinya sangat baik kepadanya, sering membimbingnya dengan baik sehingga Fitria mampu menjaga akhlaknya bersama saudara-saudara tirinya yang lain. Sekarang aku hampir mengerti mengapa jilbab adalah pakaian wajib bagi wanita muslim seperti dirinya. Jilbab adalah pakaian kemuliaan untuk menghormati kesucian mereka serta melindungi mereka dari godaan-godaan dunia yang menyesatkan. Tuhan memerintahkan menutup rapat aurat mereka demi kebaikan diri mereka sendiri agar terselamatkan seluruh manusia dari fitnah dunia yang mendera. Aku sangat terkesan dengan penjelasannya. Diam-diam aku malu tidak menutup auratku selama ini, padahal aku bukan muslim. Pakaianku sih sebenarnya juga cukup sopan karena penampilanku yang memang berbeda dengan pakaian modis gadis-gadis Korea lain.

Sekarang akhirnya kami sampai di Islamic Center Itaewon. Aku terpana melihat bangunan berkubah dengan dua menara berjajar di sisi-sisinya dengan tulisan Arab yang tidak kutahu artinya, berwarna hijau terpampang di atas pintu-pintunya. Fitria memberitahuku bangunan itu adalah masjid, tempat orang-orang muslim beribadah. Jadi, ini adalah Masjid Itaewon. Baru kutahu ada bangunan semacam ini di Seoul. Masjid ini rupanya adalah satu-satunya tempat ibadah muslim di kota ini. Aku tidak menyangka juga kalau Itaewon ini adalah tempat imigran para muslim dari berbagai negara; Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara dan Afrika. Banyak sekali restoran-restoran halal di tempat ini. Aku memang jarang sekali ke Itaewon. Memang benar kata orang, masuk ke daerah ini seakan sudah tidak di Seoul lagi.

“Ayo, aku ingin mengajakmu berkenalan dengan seseorang,” kata Fitria sambil menggamit tanganku.

“Ne,”[18]aku mengangguk. Kami masuk ke bagian ruang shalat khusus perempuan. Kulihat ada beberapa orang wanita yang penampilannya sama seperti Fitria. Dia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Arab yang tidak kumengerti artinya dan wanita-wanita itu membalasnya dengan ramah. Aku mengangguk malu-malu saat mereka menatapku heran namun akhirnya tersenyum. Kami duduk di bagian ruang shalat itu, mendengarkan seorang wanita berwajah Arab di depan sedang bicara dalam bahasa Inggris. Kebetulan aku cukup mengerti bahasa Inggris. Aku memandang Fitria dengan bingung. Bukankah kami akan bertemu seseorang? Setelah wanita Arab itu selesai bicara, para wanita itu bubar lalu Fitria mengajakku bertemu dengan wanita itu. Dia sangat baik sekali menyambutku, “Apa kabar?”

“Baik,” jawabku dengan canggung.

“Nama saya Ummu Ali,” jawab wanita itu.

“Saya Bu Yong,” kataku.

“Nama yang bagus,” katanya, “artinya bunga lotus, benar, kan?”

“Eh? Iya, benar, Madam,” kataku sambil mengangguk.

“Teman barumu, Fitria?” tanya Ummu Ali kepada Fitria.

“Ya, Ummu,” kata Fitria, “saya mengajaknya kemari untuk berkenalan dengan teman-teman yang lain.”

“Begitu,” kata Ummu Ali, dia memegang tanganku dengan lembut, “senang bertemu denganmu, Bu Yong.”

“Terima kasih,” kataku sambil tersipu malu melihat keteduhan wajahnya. Bahasa Korea-nya fasih sekali. Maka kuutarakan maksud kedatanganku, ingin bertanya tentang Islam dan jilbab kepadanya. Apa itu Islam, siapakah Muhammad bin Abdullah dan mengapa wanita harus berjilbab? Kemudian Ummu Ali menjelaskannya, “Islam adalah engkau mengucapkan dua kalimat syahadat, menunaikan shalat, membayar zakat, mengerjakan puasa Ramadhan dan mengerjakan haji. Kujelaskan padamu pertama, syahadat adalah pintu gerbang Islam. Kau harus mengucapkan asyhadu anla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah: Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat merupakan pengakuan yang harus diucapkan bagi seseorang yang telah mendapatkan karunia hidayah atau petunjuk Tuhan atas keimanan dalam hatinya. Saat masuk Islam, orang itu berarti telah mengakui bahwa hanya Allah Yang Maha Esa. Tiada satu pun di dunia ini boleh menyekutukan-Nya. Selain itu, dia juga mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Beliau adalah penyebar ajaran Islam ini. Dilahirkan di Makkah ribuan tahun yang lalu, seorang nabi dan rasul terakhir yang menyebarkan risalah ajaran tauhid, yaitu ajaran untuk mengesakan Tuhan. Bahwa hanya Allah saja Yang Esa dan berhak disembah. Pencipta langit dan bumi dengan segala isinya. Tiada yang bisa menandingi kekuasaan-Nya. Ajaran tauhid ini sudah turun temurun disebarkan oleh para nabi dan rasul sejak masa Nabi Adam, manusia pertama penghuni bumi ini sampai terakhir kepada Muhammad SAW.”

“Muhammad bin Abdullah, beliau lahir dalam keadaan yatim, tiada memiliki seorang ayah. Kemudian beberapa tahun setelahnya, ibunda beliau meninggal dunia kemudian setelahnya kakeknya. Sampai beliau diangkat menjadi nabi dan rasul, paman beliau mengasuhnya. Dahulu di Makkah ketika risalah Islam disebarkan, sebagian dari kaumnya menentang, sebagian yang lain menyatakan keimanannya. Mereka inilah para penganut Islam yang pertama, para sahabat Rasulullah. Muhammad bin Abdullah adalah sosok yang mulia, kepribadiannya luar biasa mengagumkan. Akan panjang sekali kalau saya harus menjelaskannya di sini. Saya hanya akan menjelaskan sebagian kecil saja dari itu. Yang lainnya kau bisa baca sendiri di Perpustakaan Islamic Center bersama Fitria.”

Aku mengangguk sambil mendengarkan penjelasannya dengan baik.

“Muhammad bin Abdullah adalah sosok suami yang baik kepada istri-istrinya, seorang ayah dan kakek yang penuh kasih sayang kepada anak-anak dan cucu-cucunya, seorang pemimpin yang bijaksana, seorang sahabat yang pemurah hati serta panglima perang yang pemberani. Itulah beliau, Muhammad bin Abdullah. Kami, kaum muslimin sangat mencintainya dan mengikuti teladan hidupnya,” kata Ummu Ali.

Aku mengangguk takjub. Baru kali ini kudengar ada kisah seseorang yang begitu mulia. Namanya Muhammad bin Abdullah. Aku semakin penasaran ingin mengenal sosok laki-laki tersebut. Kuputuskan dalam hati akan mencari tahu tentangnya.

“Kedua, shalat adalah kewajiban kami untuk beribadah kepada Allah, lima kali sehari kami wajib menunaikannya. Setiap subuh, dzuhur, ashar, maghrib dan isya. Mungkin bagi orang-orang selain muslim heran melihat cara peribadatan kami. Dianggap melelahkan. Maka, kami jawab tidak. Kami tidak merasa berat maupun lelah menjalankan shalat karena kecintaan kami kepada Tuhan yang kami yakini. Kami mencintai-Nya dengan lapang hati penuh keikhlasan. Ibadah ini untuk kami sendiri agar kami bisa menjadi hamba-Nya yang bersabar serta mencegah kemungkaran yang bisa saja kami perbuat secara tidak sengaja kapanpun. Shalat juga adalah amal pertama yang akan dihitung pada saat hari kiamat nanti. Makanya, kami pun mencintai shalat agar amal kami terkumpul begitu banyak di akhirat kelak sehingga kami bisa masuk ke dalam surga atas keridhaan-Nya.”

“Ketiga, membayar zakat. Zakat adalah perintah agama. Harta kekayaan yang kita miliki merupakan titipan Tuhan dan dua setengah persen dari harta kita itu adalah hak bagi orang-orang yang miskin untuk menerimanya. Islam adalah agama sosial yang tidak akan membiarkan manusia hidup sengsara dalam garis kemiskinan. Mereka harus hidup sejahtera dan makmur. Maka, zakat adalah sarananya demi kepedulian kami kepada mereka. Zakat adalah pembebasan mereka dari garis kemiskinan menuju kemakmuran. Agar hidup mereka tidak lagi sengsara. Agar keimanan mereka dikuatkan dalam membela agama Allah. Siapa saja yang berhak menerima zakat? Ada delapan orang; fakir, miskin, amil, muallaf, ibnu sabil, dan yang lain-lainnya, maaf aku lupa. Tapi kau bisa membacanya di perpustakaan kami.”

“Keempat, berpuasa Ramadhan. Selama sebulan penuh kami diwajibkan untuk berpuasa untuk menahan lapar dan haus, tidak makan dan minum dari waktu fajar hingga maghrib. Puasa membuat kami kuat dan sehat secara fisik seta jiwa kami pun merasakan kenikmatan yang luar biasa saat nafsu kami pun terbelenggu karena puasa yang kami jalani. Bagi orang-orang yang masuk Islam, berpuasa akan cukup berat baginya karena dia sudah lama terbiasa makan setiap hari tanpa melihat waktu. Tetapi karena keimanan dan kecintaannya kepada agama ini, dia pun tergerak untuk berpuasa. Berlatih kesabaran menahan nafsunya. Tidak makan dan minum sepanjang hari.”

“Terakhir, mengerjakan haji ke Baitullah di Makkah. Panggilan Tuhan kepada kami untuk berkunjung ke rumah-Nya, melaksanakan ajaran Ibrahim dan keturunannya, yaitu Muhammad. Melaksanakan thawaf, mengerjakan sa’i, wukuf di Arafah, bermalam di Mina dan Muzdalifah serta melontar jumrah. Sungguh luar biasa kenikmatan haji, sangat sulit kukatakan. Betapa aku merasakan keharuan yang begitu menggenggam jiwa ketika menatap Ka’bah dan Masjid Al-Haram untuk pertama kali dalam hidupku. Aku merasakan kebahagiaan yang benar-benar lain dan berbeda.”

Aku merasakan getaran dalam hatiku saat mendengarkan penjelasannya. Semakin tertarik ingin mengetahui Islam. Sangat penasaran sekali. Lalu dengan mulut yang bergetar, aku bertanya kepadanya, “Bagaimana dengan jilbab?”

Ummu Ali tersenyum, “Apa kau pernah bersyukur bahwa kau cantik, Bu Yong?”

Aku tersipu malu, “Cantik? Tidak, saya biasa-biasa saja. Anda bisa lihat penampilan saya, Madam. Berbeda dengan kakak saya, berbeda dengan teman-teman saya di kampus. Saya tidak semodis mereka, tidak segaul mereka. Penampilan saya adalah penampilan orang cupu, kata mereka. Padahal kata orang, bunga itu cantik tapi mereka menyindir, bahwa saya tidak secantik bunga.”

Ummu Ali tersenyum, “Karena kau istimewa, Bu Yong.”

“Istimewa?” kataku, tidak mengerti.

“Bunga lotus adalah bunga yang istimewa, terpisahkan dari bunga-bunga yang lain, membuat indah dipandang orang karena kesahajaannya yang begitu mempesona, begitu suci dan berbeda. Tidak seperti bunga-bunga lain yang begitu sering dipandang orang tapi banyak yang berani menyentuhnya untuk sekedar memetik atau apapun. Tapi bunga lotus lain. Tidak ada banyak orang yang memetiknya. Mereka membiarkannya, menjaganya, menghormatinya. Tidak mau mengganggunya. Begitu juga dengan kau, Bu Yong. Kau cantik, tapi kecantikanmu tersembunyi. Justru dengan ketersembunyian kecantikanmu, kau terjaga dari tangan para laki-laki yang berhati kotor yang ingin mengotori kesucian, kemuliaan dan kehormatanmu. Kau berbeda dengan para gadis yang lain yang begitu mudahnya mau disentuh oleh para laki-laki itu. Kecantikan mereka tampak begitu jelas, menjadi obralan untuk disentuh para lelaki berhati kotor. Tetapi kau istimewa dan berbeda, Bu Yong. Hanya laki-laki berhati mulia yang pantas mendapatkanmu.”

Hatiku berdesir mendengarnya. Tiba-tiba aku teringat ibuku yang juga berkata hampir sama seperti Ummu Ali. Aku istimewa, berbeda, spesial dan kecantikanku tersembunyi. Hanya laki-laki berhati mulia yang pantas mendapatkanku…

“Maka, bersyukurlah bahwa kau ini cantik, Bu Yong,” kata Ummu Ali.

Aku sedikit tertawa, “Tapi, bagaimana saya harus mensyukurinya, Madam? Dengan cara apa saya harus melakukannya? Bukankah kecantikan ini milik saya? Bukankah saya harus menjaganya dari tangan para lelaki berhati kotor? Tidak boleh sembarang orang dari mereka yang bisa menikmati kecantikan saya.”

Ummu Ali tersenyum lebar dengan tatapannya yang teduh memandangku, “Maka, jilbab adalah cara sesungguhnya dalam mensyukuri kecantikanmu. Jilbab adalah bentuk syukur kita atas karunia kecantikan yang diberikan Tuhan kepada kita. Kalau mensyukuri ciptaan Tuhan atas kecantikan ini, ya lindungilah ciptaan-Nya, jagalah dengan baik, bukan untuk memamerkannya, yang bisa membahayakan keselamatan dirinya dari laki-laki yang tidak baik. Untuk melindunginya tutuplah dengan pakaian hijab, jilbab atau apapun namanya, yang penting harus menutupi seluruh aurat, sebab ini adalah perintah Tuhan untuk kebaikan kita semua. Kalau Allah memerintahkan sesuatu kepada hamba-Nya, itu adalah untuk kebaikannya. Masa Allah mau merugikan hamba-Nya dengan menyuruh berjilbab dan menutup aurat? Justru karena Allah menyayangi kita, makanya Dia menyuruh kita menutup seluruh aurat supaya kehormatan kita sebagai wanita benar-benar terlindungi…”[19]

Aku dan Fitria tertegun mendengarnya. Benar…

Dia benar sekali…

Ummu Ali benar! Jilbab adalah pakaian kehormatan itu. Dialah bentuk syukur kita atas karunia kecantikan dari Tuhan…

Hanya laki-laki berhati mulia yang pantas mendapatkanku…

Hanya laki-laki berhati mulia yang pantas mendapatkan seorang gadis yang telah menutup auratnya dengan baik. Hanya mereka yang berhak menikmati kecantikannya yang tersembunyi dan mempesona. Hanya mereka yang berhak mendapatkannya. Tidak sembarang lelaki.

Aku berbeda. Aku istimewa. Aku cantik. Dengan jilbab….

Jilbab…

Tunggu, aku bukan muslim. Tapi hatiku merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang sulit kulukiskan ketika bertemu dengan Ummu Ali. Aku merasa sangat tenteram sekali. Islam… agama yang indah… membuatku terpesona dan jatuh cinta…

Jatuh cinta?

Aku berdebar-debar. Kupandang wajahku memerah karena malu. Benarkah aku jatuh cinta? Ini pertama kalinya aku merasa demikian. Bukan jatuh cinta yang biasa kepada laki-laki tapi jatuh cinta kepada agama itu… Islam…

Kupandang ibuku dan kakakku yang tertawa dan mengobrol dengan akrab. Kalau aku mempelajari Islam lalu masuk ke agama ini, apakah mereka berdua akan setuju? Apakah mereka akan merelakan diriku berubah menjadi seorang muslimah, mengenakan pakaian kehormatan yang akan melindungi kecantikanku agar aku bisa menjadi laksana bunga lotus yang indah dipandang orang tapi tidak bisa sembarang orang menyentuhnya? Apakah ibuku akan marah kalau aku masuk Islam? Apakah kakakku akan kecewa begitu aku menutup rapat auratku? Tapi aku sungguh telah jatuh cinta kepada Islam. Penjelasan Ummu Ali membuatku sangat terpesona. Aku jatuh cinta. Aku tidak tahan lagi. Aku ingin tahu segalanya tentang Islam. Aku ingin sekali mengenakan pakaian kehormatan itu. Jilbab. Aku ingin sekali…

Aku rindu…

Rindu sekali ingin mengenal Islam lebih dalam. Rasanya berbeda dan lain ketika masuk ke komunitas pemeluknya. Ada yang lain. Begitu istimewa. Menenangkan jiwa. Menenteramkan hati dan batin ini. Maka, aku dan Fitria, selama beberapa hari ini bertandang ke Perpustakaan Islamic Center, membaca banyak hal tentang Islam kemudian berdiskusi panjang lebar. Jika ada di antara kami yang tidak mengerti, maka kami menanyakannya kepada Ummu Ali. Wanita asal Palestina ini telah menjadi guru bagiku. Beliau sangat keibuan, mirip dengan ibuku. Aku tersentuh dengan kebaikannya. Setiap hari dia selalu membagi aku kue-kue kecil buatannya kalau aku sedang berkunjung ke Islamic Center. Dia telah menganggap aku anaknya sendiri.

I will be a person with pretty heart

And become a person who is selfless

I’ll keep the love of my mother’s wishes

I think of mother who used to share my dreams and brush my hair…[20]

Aku senang mendengar lagu ini. Salah satu lagu favoritku yang dinyanyikan oleh SNSD. Mengingatkanku selalu kepada ibu. Hatiku terharu setiap kali mendengarkan lagu ini. Merasakan getaran yang begitu luar biasa karena kecintaanku kepada ibu. Bahkan aku juga lebih tersentuh saat ternyata ajaran Islam adalah ajaran yang memuliakan wanita, dimulai dari ibu mereka. Aku mencoba melaksanakan ajarannya walaupun belum kunyatakan syahadat. Kubantu ibuku berdagang di pasar, kusisir rambut ibuku setiap kali kami bersama-sama di rumah, memasak di dapur. Memijatnya setiap kali ibuku merasa lelah. Mengecup pipinya dengan cinta. Ibuku tersenyum melihat perubahanku yang tidak biasa. Dia senang melihat aku mulai berbeda. Lebih dekat kepadanya dibandingkan dulu. Kakakku pun juga semakin senang aku tidak pernah lagi mengajaknya bertengkar. Dia sudah lama capek bertengkar denganku terus karena tabiatku yang begitu egois dan sering menjengkelkannya. Sambil memijat tangan dan kakinya setiap malam, kuhidangkan secangkir cokelat hangat untuknya, bercerita tentang apa saja lalu terlelap dalam pelukannya yang hangat. Aku sangat mencintai ibuku dan Hwa Yong unni. Tapi ada kekhawatiran dalam hatiku, apa reaksi mereka kalau aku masuk Islam?

Pekan ini, konser yang sangat kutunggu telah tiba di depan mataku. Kakakku tersenyum sambil menggandeng tanganku. Kami bersorak saat melihat IU tampil begitu mempesona dengan nyanyiannya yang indah, menyanyikan lagu-lagu favoritku, seperti Marshmallow, Feel So Good dan Good Day. Tapi kali ini aku tidak berjingkrakkan untuk mengikuti irama lagunya. Aku hanya menggoyangkan kepalaku sambil mengikuti nyanyiannya. Kulihat para penonton lain membawa poster dan aneka atribut lain untuk mengungkapkan kecintaannya kepada IU yang menjadi idola mereka. Tiba-tiba aku diam. Idola? Kenapa aku tiba-tiba jadi ingat dengan cerita Ummu Ali dan Fitria tentang Muhammad bin Abdullah. Betapa beliau lebih dicintai dan disukai oleh semua orang di bumi ini. Dia lebih pantas dicintai daripada orang lain. Muhammad bin Abdullah… kini aku sudah mengenal pesonanya yang begitu rupa. Aku terpesona dengan kebaikan dan keindahan akhlaknya. Aku jatuh cinta kepadanya. Seandainya ada laki-laki seperti beliau di dunia ini. Seandainya saja… seandainya… maka akan kusambut tangannya… menikah dengannya…

“Bu Yong,” tegur Hwa Yong pelan.

Aku refleks menoleh, “Ya?”

“Kau mau tanda tangan IU?”

“Mwo?” kataku terkejut mendengarnya. Tanda tangan? Yeah, aku jujur saja. Belum pernah kudapatkan tanda tangan artis-artis K-Pop itu padahal aku sangat menyukai mereka. Belum pernah aku menjadi bagian dari komunitas penggemar manapun karena… yah karena aku berbeda…

Tanda tangan, ya? Apakah itu begitu berarti dan istimewa? Padahal apa istimewanya tanda tangan seorang artis dibandingkan sejarah istimewa seorang laki-laki mulia yang pernah hidup di bumi ini. Muhammad bin Abdullah…

Ya Tuhan, kenapa aku jadi ingat dengan beliau? Kenapa aku jadi ingat dengan namanya? Bukankah beliau sudah lama tiada?

Tapi sejarah telah menuliskan kisah hidup beliau yang begitu istimewa dan mempesona, terpatri dalam kenangan semua orang. Saling merindu untuk berjumpa dengan beliau. Aku juga mau. Aku ingin sekali menemuinya. Aku ingin berjumpa dengannya…

“Bu Yong?” tegur kakakku sekali lagi.

Aku tersadar dari lamunanku lalu segera menggeleng, “Tidak usah, Unni…”

Hwa Yong heran menatapku, “Lho, kenapa? Bukankah dari dulu kau sangat menginginkan bertemu dengan IU lalu meminta tanda tangannya?”

“Tanpa harus meminta tanda tangannya juga aku senang, kok,” kataku, “aku sudah cukup senang melihat penampilannya di atas panggung. Itu saja. Tapi aku sangat berterima kasih padamu karena telah mengajakku, Unni…”

“Bu Yong…”

“Saranghae, Unni…”[21]kukecup pipi kakakku dengan kecupan yang hangat lalu kupeluk dirinya. Aku tidak tahu apa reaksi Hwa Yong tapi dia membalas pelukanku. Membelai rambutku lalu mencium pipiku juga, “Unni juga mencintaimu…”

“Maafkan bila selama ini aku kasar pada Unni. Sering bertengkar…” kataku dengan nada penuh penyesalan.

Hwa Yong tersenyum, “Tidak apa-apa,aku selalu memaafkan dan mencintaimu, Bu Yong. Kau adalah adikku satu-satunya. Maafkan aku juga kalau sering mengecewakan dirimu sehingga tidak bisa menjadi kakak yang baik bagimu.”

“Unni…”

“Hm?”

“Makan yuk, aku lapar…”

Hwa Yong tertawa lalu menggamit lenganku, “Gaja,[22]kita makan.”

Ah, malam yang indah bersama kakakku. Kami tertawa dan bercanda bersama-sama. Saling berangkulan yang erat menikmati udara sejuk musim semi yang sebentar lagi akan datang menyapa di Seoul.

“Bu Yong.”

Aku yang sedang merawat tanaman bonsai kesayangan ibuku sore itu, langsung menengok untuk menyahut panggilan ibu yang baru saja pulang dari pasar, “Ada apa, Omma?”

Ibuku langsung duduk melepas lelah. Segera kuhampiri dia lalu memijat tengkuk sekaligus mencium pipinya. Lalu kakakku muncul dari dapur, membawakan nampan kue dan tiga gelas teh ginseng hangat kesukaan kami sekeluarga. Kami bertiga akhirnya berkumpul bersama sore ini.

“Tadi ada teman Omma yang cerita kalau dia sering melihatmu bepergian ke Itaewon,” katanya, “teman Ommaitu tinggal di sana. Dia heran saja, tidak biasanya kau begitu sering pergi ke Itaewon. Dia mengira aku menyuruhmu ke sana untuk melakukan sesuatu padahal aku tidak menyuruh apa-apa. Bahkan dia pernah melihatmu berdua dengan seorang gadis berpakaian serba tertutup. Apa itu benar, Bu Yong? Apa yang sedang kau lakukan?”

Kakakku diam memandang kami dan aku tertunduk. Tubuhku gemetar. Gugup. Tidak menyangka kalau rutinitasku ke Islamic Center akan ketahuan oleh teman ibu. Bagaimana ini? Aku bingung menjelaskannya. Kalau mereka berdua tahu aku sedang mempelajari Islam, apa reaksi mereka? Bagaimana kalau mereka tahu? Bagaimana ini? Aku bingung, apa pandangan mereka terhadap Islam? Aku bingung, sungguh bingung. Ya Tuhan, tolong beri aku petunjuk-Mu…

“Bu Yong?” tegur ibuku pelan.

Pelan-pelan aku menarik napas, mengumpulkan keberanianku untuk menjelaskan seluruhnya. Biarlah kalau seandainya ibuku dan kakakku membenci apa yang kulakukan. Inilah yang harus kualami dan kuhadapi resikonya. Tidak mengapa. Aku sudah siap menjadi muallaf lalu menyatakan keimananku kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku siap bila seandainya ibuku dan kakakku mengusirku dari rumah karena telah berbeda keyakinan dari mereka. Tapi inilah keyakinan yang ingin kuanut. Aku ingin istimewa dalam balutan jilbab yang begitu mempesona. Karena aku adalah bunga lotus. Bunga yang istimewa dipandang orang dan tidak bisa sembarang disentuh begitu saja oleh siapapun. Aku ingin terjaga kesucian dan kehormatanku dalam Islam.

Kujelaskan semuanya pada mereka. Begitu dalam apa yang kurasakan selama ini sehingga tanpa sadar air mataku mengalir membasahi kedua pipiku. Aku jatuh cinta kepada Islam… aku jatuh cinta kepada penyebar risalahnya… aku jatuh cinta kepada Penciptaku… aku telah mengenal-Nya sebagai Tuhanku. Selama ini aku belum pernah mengenal Tuhan sama sekali. Aku ingin bahagia di dalamnya. Aku ingin bahagia sebagai penganut Islam, menjadi muslimah, mengenakan jilbab… mengenakan pakaian kehormatan itu untuk menjaga kecantikanku… aku ingin seindah bunga lotus… Oh Bu Yong namaku… aku ingin menjadi seorang muslimah…

Tanpa kusangka, ibuku langsung memelukku dengan erat, menghapus linangan air mataku, mencium ubun-ubunku lalu membelai rambutku. Dia sangat menyayangiku, mencintaiku, membesarkan kami berdua dengan susah payah sampai sekarang.

“Masuklah ke dalam agama itu, putriku,” kata ibuku pelan, “jika itu telah mnejadi pilihan hidupmu untuk bahagia, menjadi bunga yang mulia, suci dan terhormat dipandang orang. Masuklah ke dalam agama Islam jika itu telah menjadi keyakinanmu selama ini, putriku. Omma merestuimu. Omma mencintaimu. Omma meridhaimu. Tidak akan menghalangi keyakinanmu dan akan selalu menghargai ajaran agama yang akan kau peluk itu. Ibu ingin kau tampil cantik dengan jilbab yang akan kau kenakan suatu hari. Omma ingin sekali melihatnya. Walau agama kita kelak akan berbeda, tapi cintaku padamu tidak akan sirna. Tidak akan hilang. Cintaku untukmu, Bu Yong…”

“Omma…” isakku lirih sambil memeluknya, “Omma… saranghae…”

“Saranghae, Bu Yong…” ucap ibuku sambil turut menitikkan air matanya, “jangan menangis lagi. Aku dan kakakmu akan semakin sedih melihatmu menangis. Kami sangat bahagia kalau kau bahagia. Kami sangat sedih kalau kau sedih. Jadilah seorang muslim yang baik, Bu Yong-ku yang tercinta.”

Kupandang Hwa Yong yang sedang menghapus air matanya. Rupanya dia juga sedang menangis. Dia mengitari meja lalu memeluk kami bertiga. Aku bahagia, terharu, ternyata… ternyata mereka mendukungku… mereka tidak mengusir apalagi membenciku. Mereka ingin aku bahagia… ibuku dan Hwa Yong unni, mereka sangat mencintaiku.

Kutatap langit senja di Itaewon. Masjidnya berdiri gagah mempesona dengan tulisan yang akhirnya kutahu adalah tulisan Allahu Akbar berwarna hijau, dipajang di atas pintu-pintunya. Fitria menggenggam tanganku dengan senyumnya yang menawan lalu aku dan dia berjalan masuk ke dalam pintu masjid. Sudah ada puluhan jamaah berkumpul di sana. Laki-laki dan perempuan. Terpisahkan dalam dua shaf berbeda. Perempuan di belakang dan laki-laki di depan. Lalu aku maju ke bagian depan shaf laki-laki, didampingi oleh Ummu Ali dan Fitria, duduk bersimpuh di hadapan seorang imam masjid yang berwibawa dan sama teduh pandangan wajahnya. Lalu kubacakan syahadat sebagai pengakuan keimananku kepada Islam. Aku bersyukur, terharu telah menjadi bagian dari umat Islam. Kini aku adalah seorang muslimah. Aku adalah Bu Yong, seorang muslimah yang baru, siap untuk menjalani hari-hariku selanjutnya menjadi orang yang luar biasa, menjadi bunga yang istimewa dipandang orang karena keindahan akhlak serta kepribadiannya. Aku tidak akan menjadi orang yang biasa lagi. Aku harus menjadi orang yang luar biasa. Ummu Ali dan Fitria memelukku dengan hangat sebagai saudari mereka. Langit senja di Itaewon begitu indah, sangat indah sekali…

Setelah itu kuutarakan keinginanku langsung memakai jilbab kepada Fitria. Aku ingin memperlihatkan kepada ibuku dan kakakku, penampilanku yang baru. Kecantikanku yang sempurna dengan jilbab yang kukenakan. Fitria menjawab dengan senang hati. Dia membantuku memakaikan aku jilbab dan mengenakan gamis panjang. Kemudian aku mematut diri di cermin. Aku cantik. Aku istimewa. Inikah aku? Sulit dipercaya tapi inilah aku. Bu Yong.

Aku dan Fitria datang ke rumah dengan semangat baru, tidak sabar ingin memperlihatkan pakaian jilbabku yang tertutup rapat kepada mereka. Kubayangkan ibuku yang tersenyum cerah dan kakakku yang nampak bahagia. Kami berdua langsung masuk ke dalam rumah. Ibuku dan kakakku kupanggil lalu kulihat ekspresi terkejut mereka sekaligus senang.

“Bu Yong, kau cantik sekali,” puji ibuku sambil mendesah, dia membelai jilbabku begitu terpesona pandangannya.

“Yeah, kau jadi lebih cantik dariku,” kata Hwa Yong dengan tulus.

“Benarkah aku cantik?” tanyaku dengan semangat.

“Tentu saja kau cantik,” kata ibuku, “semua anak Omma tetaplah gadis-gadis paling cantik di dunia ini!”

“Benarkah aku cantik, Unni?” tanyaku kepada Hwa Yong.

Dia tersenyum jahil, “Bagaimana, ya? Aku tetap merasa kau biasa-biasa saja alias culun!”

“Unni…!” protesku.

“Bercanda,” Hwa Yong menjulurkan lidahnya tapi langsung tertawa sambil memelukku, “adikku sayang…”

Setelah kami berangkulan erat, kukenalkan Fitria kepada mereka. Ibuku dan kakak menyambutnya dengan hangat dan akrab. Sore itu menjadi sore yang indah dan bahagia dalam hidupku. Kami begitu akrab, dekat, saling tertawa dalam kehangatan keluarga, persahabatan dan persaudaraan. Ah, benar-benar indah. Langit senja yang indah di Seoul. Tidak akan pernah kulupa kenangan bahagia ini. Tidak akan pernah kulupakan senyum ibuku, kakakku, Fitria dan Ummu Ali. Tidak akan pernah kulupa kehangatan persaudaraan yang mereka berikan. Kehangatan cinta dan keakraban yang diberikan kepadaku. Tidak akan pernah kulupa.

Sungguh aku bahagia dengan jilbabku. Kini aku telah menjadi seorang Bu Yong yang istimewa. Aku telah menjadi seorang Bu Yong yang berbeda dan tidak biasa lagi. Tidak akan kupedulikan pandangan orang. Tidak akan kupedulikan apa kata orang. Aku lebih mencintai Tuhan dan nabiku. Aku mencintai agamaku. Aku mencintai ibuku dan kakakku. Aku mencintai Fitria. Aku mencintai Ummu Ali dan aku mencintai kaum muslimin di seluruh dunia. Aku adalah Bu Yong. Seorang gadis muslimah berjilbab dari negeri Korea Selatan. Semoga perdamaian kembali ke Korea, menyatu dari utara hingga selatan. Selamanya di tanah semenanjung kami. Semoga hari itu tiba kelak…

 

THE END

 

 

 

 

[1]Oppa adalah panggilan yang diperuntukkan untuk kakak laki-laki dalam keluarga Korea oleh adik perempuannya serta panggilan untuk pemuda yang lebih tua umurnya. Tidak hanya itu, oppa juga panggilan sayang untuk laki-laki Korea dari kekasihnya.

[2] Hei, Bu Yong!

[3] Saya minta maaf! Ucapan permintaan maaf ini merupakan ucapan formal dalam bahasa Korea sehari-hari terhadap orang-orang yang tidak dikenal maupun di forum-forum resmi.

[4] Mengerti?

[5]Para anggota grup Miss A.

[6] Anggota 2PM.

[7] Jessica anggota grup SNSD dan Krystal anggota grup f(x).

[8] Ibu.

[9] Ayah.

[10] Panggilan untuk kakak perempuan oleh adik perempuan.

[11] Apa?

[12] Anda baik-baik saja?

[13] Tidak.

[14] Terima kasih.Gamsahamnida adalah ucapan formalitas dalam bahasa Korea terhadap orang yang baru dikenal atau di forum resmi. Tetapi terhadap teman atau orang yang sudah dikenal dengan akrab, boleh mengucapkan gumawo.

[15] Hebat.

[16] Benarkah?

[17] Kue beras.

[18] Ya.

[19] Kutipan dialog dari novel trilogi Puncak Menara Cinta karya penulis yang saat ini sedang dalam proses penerbitan.

[20] Dear Mom by SNSD.

[21] Aku mencintaimu, kakak

[22] Ayo

Annyeong haseyo!! 안녕하세요!

Nun dan demi Pena dan apa yang mereka tuliskan….

Hai, selamat datang di blog Abdullah AlQalam. Lho, kenapa memakai nama Abdullah AlQalam? Karena saya senang memakai nama ini. Saya ingin menjadi hamba Allah yang menggunakan penanya untuk memberikan kontribusi terbaik kepada masyarakat melalui tulisan-tulisan saya, baik melalui novel, cerpen maupun non fiksi. Tetapi sesungguhnya nama pena saya adalah Tsubasa Potter, lho! Kenapa saya menggunakan nama pena tersebut?

Begini, pada tahun 2011 saya masuk ke komunitas kepenulisan dunia maya yang bernama Fanfiction.Net dan mempublikasikan sebuah karya bernama Legend of the Wings di sana dan sekarang sedang berjalan, Saya adalah penggemar Tsubasa Chronicles dan Harry Potter, jadi saya menggabungkan dua kata nama keduanya, yaitu Tsubasa dan Potter menjadi satu.

Anyway, inilah sambutan dari saya. Alhamdulillah, telah terbit novel saya yang bertjudul Han River’s Love Story, sebuah novel trilogi yang berseting di Korea, Turki dan Mesir. Insya Allah akan menyusul 9 karya lainnya. Fighting! ^_^